PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah Kabupaten di Kalimantan Tengah, masih belum mereda. Memasuki malam hari hingga pagi hari, kabut asap disertai aroma tanah terbakar masih dirasakan masyarakat, membuat kualitas udara tidak sehat.
kejadian yang berulang setiap musim kemarau itu, sudah mendapatkan perhatian dari Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto, yang mengintruksikan percepatan penanganan di daerah dengan karakteristik lahan gambut.
Instruksi itu pun ditindaklanjuti Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr Suharyanto, yang datang ke Kalteng, untuk memantau, sekaligus memperkuat upaya penanganan karhutla, sejak akhir Juli 2026 lalu.
"Ini merupakan perintah dari Bapak Presiden Prabowo Subianto yang dua hari lalu memimpin langsung rapat terbatas. Kami dari BNPB datang ke sini untuk melihat secara langsung penanganan karhutla di Kalteng," ujarnya saat di Palangka Raya, Jumat (31/7/7) lalu.
Ia menegaskan, pemerintah juga menargetkan kualitas udara tetap terkendali agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat.
Lebih sepekan berlalu, karhutla masih meluas di wilayah Kalteng, hingga Minggu (9/8). Seperti di Kota Palangka Raya, dari data Polres setempat, sudah terjadi 175 kali karhutla. Angka itu melonjak drastis sejak Juli dan Agustus. Luasan lahan terbakar mencapai 165,08 hektar dan beberapa lokasi telah dipasangi garis polisi. Paling banyak terjadi karhutla di kecamatan Jekan Raya 108 kali, Sebangau 43 kali, Pahandut 18 kali dan Bukit batu 5 kali.
Baca Juga: Lahan Hangus mencapai 3.069,52 Hektare, Presiden Prabowo Soroti Karhutla di Kalteng
Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Dedy Supriadi mengungkapkan, salah satunya kebakaran lahan di Jalan Mahir Mahar Km 23, Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau. Personel Polsek Sabangau bersama Manggala Agni dan relawan terus melakukan pemadaman secara manual menggunakan mesin pompa air.
“Lahan yang terbakar diperkirakan seluas kurang lebih 1 hektare, yang mana api dengan cepat merambat karena tanah berkontur gambut dan kondisi permukaan lahan yang kering serta berangin cukup kencang,” ujarnya,Minggu (9/8O).
Penanganan karhutla juga dilakukan di kawasan Jalan Tingang XXII, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya. Polsek Pahandut mengerahkan personel untuk membantu pemadaman bersama relawan Masyarakat Peduli Api (MPA).Api membakar lahan yang diperkirakan seluas dua hektare. Kondisi gambut dan permukaan lahan yang kering membuat kobaran api mudah menjalar.
“Petugas juga terus melakukan pengecekan titik panas atau hotspot, sebagai respons cepat untuk memastikan laporan karhutla sekaligus mencegah api meluas.Polsek Sabangau, misalnya, mengecek karhutla di kawasan Jalan Kahuripan, Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, pada Sabtu siang (8/8).Dari hasil pengecekan, lahan yang terbakar diperkirakan sekitar 400 meter persegi. Area tersebut ditumbuhi tanaman liar dan semak belukar dengan kondisi tanah gambut,” papar Dedy.
Di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), lokasi karhulta juga mudah ditemui. Salah satunya seperti di Jalan Tjilik Riwut dari arah Kecamatan Kota Besi memasuki Kota Sampit. Di pinggir jalan trans Kalimantan itu, masih terdapat lahan yang masih mengeluarkan kepulan asap dan bara api. Beberapa lokasi nampak mengenai tiang dan kabel listrik, serta ada yang dipasangi tali garis kuning polisi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengungkapkan, hotspot atau titik panas di Kotim masih terus bertambah, kendati tak semuanya menunjukkan adanya lokasi karhutla.
Kota Besi menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 241 titik. Disusul Mentawa Baru Ketapang sebanyak 152 titik, Mentaya Hilir Utara 138 titik, Seranau 135 titik, dan Antang Kalang 101 titik.
Kemudian di Kecamatan Teluk Sampit tercatat 73 titik, Baamang 69 titik, Mentaya Hulu 50 titik, Parenggean 46 titik, Telawang 45 titik, Cempaga 34 titik, Cempaga Hulu 29 titik, Tualan Hulu 22 titik, Pulau Hanaut 14 titik, serta Mentaya Hilir Selatan 1 titik.
Pihaknya juga mencatat, hingga Sabtu 8 Agustus 2026, sudah 203 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 373,8788 hektare.
Wilayah dengan kejadian terbanyak adalah Baamang sebanyak 83 kejadian dan Mentawa Baru Ketapang 77 kejadian, atau hampir 79 persen dari total karhutla yang tercatat di Kotim.
Mentawa Baru Ketapang juga terdapat lahan paling luas terbakar, dengan 92,0095 hektare. Berikutnya Baamang 85,6763 hektare, Pulau Hanaut 82,65 hektare, dan Parenggean 41,5 hektare.
Bergeser ke Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), karhutla di areal ratusan hektare baru-baru ini terjadi di Desa Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, (Kobar) dalam tiga hari terakhir. Upaya pemadaman dan penyekatan titik api terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan, terdiri dari BPBD, unsur TNI AL, TNI AU, TNI AD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), Palang Merah Indonesia (PMI), serta Balakar Huma Singgah Itah.
Selain itu, proses hukum terkait penyebab kebakaran itu juga dilakukan. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kobar melakukan penyelidikan guna mengusut asal-usul munculnya api.
Sejumlah pihak telah dipanggil oleh kepolisian untuk dimintai keterangan. Termasuk pemilik lahan yang terdampak maupun yang menjadi titik awal kebakaran. Namun, pihak kepolisian belum memberikan rilis resmi terkait penetapan tersangka dalam kasus pemadaman karhutla yang meluas tersebut.
Kasatreskrim Polres Kobar Iptu Gusti Muhammad Rifa Adabi mengatakan, terkait Karhutla di Desa Sungai Tendang, masih tahap penyelidikan, dan mereka masih mengumpulkan bukti-bukti, apakah ada faktor kesengajaan dalam Karhutla tersebut.
"Baru saksi-saksi yang kami periksa, kami masih memanggil pemilik lahan untuk kami minta keterangan," tegasnya.
Kemudian di Lamandau, karhutla juga meluas dan melahap puluhan hektare lahan di seberang sungai Desa Batu Kotam, Kecamatan Bulik, Minggu (9/8). Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Babinsa, dan kepolisiandikerahkan ke lokasi untuk melakukan penanganan dan verifikasi titik panas (hotspot).
Kepala Pelaksana BPBD Lamandau, Hendikel, membenarkan karhutla di area tersebut. Menurutnya tim gabungan terus berkoordinasi secara intensif guna menentukan tindakan penanggulangan yang paling efektif, terutama dalam mengatasi kendala geografis.
"Tim di lapangan terus berkoordinasi untuk langkah penanganan terbaik, mengingat medan menuju titik api sangat sulit dan tidak bisa dijangkau oleh kendaraan darat, harus menggunakan perahu untuk menyeberang. Dan jalan kaki lagi sekitar 4 km,” paparnya.
Diungkapkannya, dari verifikasi di lokasi, kebakaran melahap lahan bukaan vegetasi semak belukar dengan karakteristik tanah campuran mineral dan gambut. Total luas area yang terbakar ditaksir sekitar 10 hektare.
"Setelah terbakar sejak Jumat (7/8), hari ini (red: kemarin) kita pantau api sudah bisa dijinakkan. Hanya tinggal sedikit asap, tidak meluas lagi," pungkas hendikel.
Selain di wilayah tersebut, kebakaran lahan terjadi secara masif di wilayah Kabupaten Sukamara dan Seruyan, yang sebagian besar menyasar lahan di wilayah pesisir.
Sebelumnya, data BNPB mencatat, hingga Juli 2026 luas lahan yang terbakar di Kalteng telah mencapai sekitar 3.069,52 hektare. Satgas Darat pun telah disiagakan di seluruh kabupaten dan kota. Sementara itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus digencarkan untuk memaksimalkan potensi hujan.
BNPB juga memperkuat dukungan udara. Saat ini tiga armada water bombing beroperasi di Kalteng dan dalam waktu dekat akan ditambah sesuai permintaan Pemprov Kalteng.
Pemprov Kalteng juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026. Sekitar 10.700 personel gabungan diterjunkan dalam penanganan karhutla di berbagai wilayah di Kalteng.(daq/ang/tyo/mex/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama