Mentawa Baru Ketapang Catat Hotspot Tinggi dan Luas Karhutla Terbesar di Kotim

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:45 WIB
Kebakaran lahan di wilayah Jalan Pandawa, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, baru-baru ini. (BPBD Kotim)
Kebakaran lahan di wilayah Jalan Pandawa, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, baru-baru ini. (BPBD Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi salah satu wilayah dengan tekanan karhutla paling tinggi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hingga 8 Agustus 2026, wilayah ini mencatat 152 hotspot sekaligus menjadi kecamatan dengan luas lahan terbakar terbesar, mencapai 92,0095 hektare.

Data Pemerintah Kabupaten Kotim melalui BPBD per 8 Agustus 2026 mencatat total karhutla di daerah ini mencapai 203 kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 373,8788 hektare.

“Dari total tersebut, Mentawa Baru Ketapang menyumbang 77 kejadian. Angka ini hanya terpaut enam kejadian dari Baamang yang mencatat 83 kejadian,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Minggu (9/8/2026)

Namun dari sisi luas lahan terbakar, Mentawa Baru Ketapang berada di posisi pertama. Luas lahan yang terbakar mencapai 92,0095 hektare atau sekitar 24,61 persen dari total luas terbakar yang tercatat.

Sementara Baamang yang memiliki jumlah kejadian paling banyak mencatat luas lahan terbakar 85,6763 hektare.

Kondisi ini menunjukkan tingginya jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Satu kejadian dapat berdampak pada area yang cukup luas, tergantung lokasi dan karakteristik lahan yang terbakar.

Data hotspot juga menunjukkan aktivitas panas yang cukup tinggi di Mentawa Baru Ketapang. Dari 152 hotspot yang tercatat sepanjang 2026, sebanyak 96 titik terdeteksi pada Agustus, 47 titik pada Juni, empat titik pada Januari, empat titik pada Maret dan satu titik pada April.

Wilayah lain yang mencatat hotspot tinggi yakni Mentaya Hilir Utara sebanyak 138 titik, Seranau 135 titik, Cempaga 134 titik dan Kota Besi 124 titik.

Menariknya, jumlah hotspot juga tidak selalu menggambarkan luas lahan terbakar. Pulau Hanaut, misalnya, hanya mencatat 14 hotspot dalam rekap 2026. Namun, wilayah tersebut sudah mencatat 82,65 hektare lahan terbakar dari empat kejadian.

Begitu pula Parenggean. Kecamatan tersebut mencatat 46 hotspot dengan tiga kejadian karhutla dan luas lahan terbakar mencapai 41,5 hektare.

BPBD memberikan catatan bahwa data luas lahan terbakar merupakan area yang diukur saat kejadian dan dapat ditangani petugas. Data tersebut masih dapat berubah seiring kelengkapan laporan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sebaran hotspot dan kejadian karhutla terus berkembang di tengah musim kemarau. Verifikasi lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya dari setiap titik panas yang terdeteksi satelit. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
karhutla MB Ketapang karhutla kotim hotspot