Kotim Catat 274 Hotspot, Satgas Ungkap Bisa Berasal dari Satu Hamparan

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 12:26 WIB
Petugas DIsdamkarmat Kotim saat memadamkan api di lahan yang terbakar malam hari. (Disdamkarmat Kotim)
Petugas DIsdamkarmat Kotim saat memadamkan api di lahan yang terbakar malam hari. (Disdamkarmat Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Sebanyak 274 titik panas atau hotspot terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam pemantauan 24 jam terakhir. Namun, jumlah tersebut tidak serta-merta menunjukkan terdapat 274 titik kebakaran aktif.

Data rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada 9 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan, dari total 274 hotspot, sebanyak 257 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 12 titik tingkat kepercayaan tinggi dan lima titik tingkat kepercayaan rendah.

Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 81 titik. Seluruhnya terdeteksi di Desa Batuah.

Disusul Kecamatan Kota Besi dengan 74 hotspot. Rinciannya berada di Soren sebanyak 39 titik, Kelurahan Kota Besi Hulu 28 titik, Kandan empat titik dan Camba tiga titik.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel mengatakan, data hotspot dari satelit perlu dibaca secara hati-hati. Sebab, satu hamparan lahan yang terbakar dapat menghasilkan beberapa titik panas dalam pemantauan satelit.

“Bisa juga dalam satu areal itu misalnya lima sampai 10 hektare, bisa ditemukan hotspot 20 titik. Tapi satu hamparan, itu satu areal saja,” ujar Rihel.

Menurutnya, ketika api menyebar di satu kawasan, panas yang dihasilkan dapat ditangkap sensor satelit pada beberapa bagian. Kondisi tersebut membuat satu lokasi kebakaran dapat teridentifikasi sebagai beberapa hotspot.

“Artinya selama menyebar terbakar, suhu panas ditangkap satelit. Mungkin ada lebih dari satu satelit yang menerima suhu panas, jadi hotspot-nya bisa lebih dari satu,” jelasnya.

Karena itu, jumlah hotspot tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah titik api di lapangan. Verifikasi tetap diperlukan untuk memastikan apakah titik panas tersebut masih menunjukkan kebakaran aktif.

Rihel mengatakan, kondisi tersebut juga dapat terjadi ketika petugas mendatangi lokasi. Hotspot yang sebelumnya terdeteksi bisa saja sudah tidak menunjukkan api saat dilakukan pengecekan.

“Bisa jua ada data titik hotspot, mun pas dicek itu sudah api kada ada nyala lagi,” katanya.

Meski demikian, sejumlah lokasi di Kecamatan Kota Besi memang terpantau memiliki hotspot sekaligus ditemukan adanya api di lapangan.

“Yang kawa dilihat di depan mata di Kobes yang pasti itu Soren, Camba dan kelurahannya. Memang ada hotspot, api jua ada yang jalur menuju ke arah Kandan sebelah kiri,” ungkapnya.

Menurut Rihel, Satgas belum dapat memastikan seluruh hotspot yang terdeteksi sebagai titik api aktif. Pemantauan lapangan terhadap seluruh wilayah Kotim juga memiliki keterbatasan.

“Mun mengacu ini, mana yang pasti ada titik apinya kada kawa dipastikan. Karena alat kita terbang mengecek kada ada ke 17 kecamatan,” ujarnya.

Selain Seranau dan Kota Besi, hotspot juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain. Kecamatan Mentaya Hilir Utara mencatat 29 hotspot, Baamang 22 hotspot, Mentawa Baru Ketapang 19 hotspot dan Cempaga Hulu 12 hotspot.

Data tersebut menjadi salah satu indikator bagi Satgas dalam menentukan wilayah yang perlu mendapat perhatian. Namun, kondisi sebenarnya di lapangan tetap membutuhkan verifikasi agar penanganan karhutla dapat dilakukan secara tepat. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
hotspot karhutla kotim karhutla kotim kotim