Hotspot Kotim Tembus 1.257 Titik, Karhutla Tembus 203 Kejadian

Rado. • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Kebakaran hutan dan lahan di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, yang terjadi beberapa hari lalu. Hingga saat ini wilayah tersebut menjadi lokasi paling banyak titik panas di Kotim. (Warga/Radar Sampit)
Kebakaran hutan dan lahan di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, yang terjadi beberapa hari lalu. Hingga saat ini wilayah tersebut menjadi lokasi paling banyak titik panas di Kotim. (Warga/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin serius.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat 1.257 titik panas atau hotspot terdeteksi sepanjang 2026 hingga 8 Agustus.

Lonjakan hotspot tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya potensi karhutla di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan keberadaan hotspot menjadi salah satu indikator yang harus segera ditindaklanjuti di lapangan. Petugas tidak hanya mengandalkan data satelit, tetapi melakukan pengecekan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Hotspot yang terdeteksi tetap harus kita tindak lanjuti dengan pengecekan di lapangan. Tidak semua hotspot berarti kebakaran, tetapi setiap titik harus diwaspadai,” kata Multazam.

Berdasarkan rekap BPBD Kotim, Kota Besi menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 241 titik. Disusul Mentawa Baru Ketapang sebanyak 152 titik, Mentaya Hilir Utara 138 titik, Seranau 135 titik, dan Antang Kalang 101 titik.

Hotspot juga terdeteksi di sejumlah wilayah lainnya. Teluk Sampit tercatat 73 titik, Baamang 69 titik, Mentaya Hulu 50 titik, Parenggean 46 titik, Telawang 45 titik, Cempaga 34 titik, Cempaga Hulu 29 titik, Tualan Hulu 22 titik, Pulau Hanaut 14 titik, serta Mentaya Hilir Selatan 1 titik.

Tingginya jumlah hotspot tersebut sejalan dengan meningkatnya kejadian karhutla. Hingga 8 Agustus, BPBD Kotim mencatat 203 kejadian dengan total luas lahan terbakar mencapai 373,8788 hektare.

Wilayah dengan kejadian terbanyak adalah Baamang sebanyak 83 kejadian dan Mentawa Baru Ketapang 77 kejadian. Dua kecamatan tersebut menyumbang 160 kejadian atau hampir 79 persen dari total karhutla yang tercatat di Kotim.

Sementara dari sisi luasan, Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah paling parah dengan 92,0095 hektare lahan terbakar. Berikutnya Baamang 85,6763 hektare, Pulau Hanaut 82,65 hektare, dan Parenggean 41,5 hektare.

Multazam mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara sembarangan. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar dan menyulitkan proses pemadaman.

“Jangan sampai ada pembakaran yang tidak terkendali. Masyarakat harus segera melapor kalau melihat adanya titik api agar bisa cepat ditangani,” tegasnya.

BPBD bersama unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik yang berpotensi berkembang menjadi karhutla.

Kewaspadaan juga ditingkatkan karena kondisi kemarau masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah Kotim. (ang)

Editor : Slamet Harmoko
hotspot sampit kotim kalteng karhutla