SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut yang menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu pagi (8/8/2026 ), bertahan lebih lama dari biasanya.
Kondisi tersebut membuat warga mulai khawatir kabut asap akan kembali menjadi pemandangan rutin setiap pagi.
Kabut mulai terasa sejak dini hari dan masih cukup pekat hingga pagi menjelang siang. Kondisi ini membuat jarak pandang warga terbatas, terutama pada sejumlah ruas jalan di wilayah perkotaan.
Warga berharap kondisi tersebut tidak berlangsung setiap hari. Sebab, selain mengganggu aktivitas, kabut asap membuat udara terasa tidak nyaman untuk dihirup.
Kondisi atmosfer pagi itu juga tercatat cukup ekstrem.
"Khawatir kalau setiap hari seperti ini akan berdampak terhadap aktivitas," kata Usna, warga Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Berdasarkan data BMKG Kotim, jarak pandang pada pukul 06.00 WIB hanya 0,2 kilometer atau sekitar 200 meter.
Suhu tercatat 19,8 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 97 persen. Angin bertiup dari utara dengan kecepatan 6 kilometer per jam.
Kondisi kemudian memburuk satu jam berikutnya. Pada pukul 07.00 WIB, jarak pandang turun menjadi hanya 0,1 kilometer atau sekitar 100 meter.
BMKG mencatat kondisi tersebut sebagai kabut tebal. Suhu 20,8 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 98 persen. Angin dalam kondisi calm atau nyaris tidak bergerak.
Memasuki pukul 08.00 WIB, jarak pandang mulai meningkat menjadi 0,5 kilometer. Namun, kondisi berubah menjadi kabut asap.
Suhu naik menjadi 24,1 derajat Celsius dengan kelembapan 90 persen. Angin bertiup dari timur laut dengan kecepatan 4 kilometer per jam.
Perubahan jarak pandang tersebut menunjukkan kabut mulai menipis, tetapi paparan asap masih terasa di udara.
Kondisi ini terjadi ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Kotim.
Masyarakat pun mulai mengkhawatirkan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari, terutama jika kondisi serupa terus berulang pada pagi hari.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam juga menyampaikan kondisi kualitas udara yang perlu diwaspadai.
Masyarakat, terutama kelompok rentan, diminta menyesuaikan aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker untuk melindungi hidung serta mulut.
Warga berharap penanganan karhutla dapat semakin diperkuat sehingga kabut asap tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas masyarakat di Sampit. (oes)
Editor : Slamet Harmoko