SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga mulai memaksa satwa liar keluar dari habitatnya.
Seekor orangutan berukuran besar dilaporkan memasuki kawasan kebun warga di Desa Bapanggang Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), bertepatan dengan terjadinya kebakaran hutan di wilayah tersebut.
Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan laporan itu diterima sekitar tiga hari lalu dari Ketua RW Desa Bapanggang Raya, Amrullah.
Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas BKSDA langsung melakukan pemantauan di lokasi.
"Ketika kami melakukan pemantauan, orangutan itu sudah tidak terlihat lagi. Kemungkinan hanya melintas," kata Muriansyah, Kamis (6/8/2026).
Berdasarkan keterangan warga, orangutan yang terlihat hanya satu individu dengan ukuran tubuh yang sudah dewasa.
Muriansyah mengatakan pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Manggala Agni untuk memastikan kondisi di sekitar lokasi.
Hasilnya, memang terjadi kebakaran hutan dan lahan di kawasan Desa Bapanggang Raya dan Desa Bapeang dalam waktu yang bersamaan dengan kemunculan orangutan tersebut.
"Kami menduga kuat kebakaran hutan dan lahan itulah yang menyebabkan orangutan masuk ke kebun warga untuk menghindari api dan asap," ujarnya.
Menurutnya, fenomena tersebut bukan hal baru. Saat terjadi karhutla, berbagai satwa liar kerap keluar dari habitatnya untuk mencari lokasi yang lebih aman.
"Wilayah yang terjadi karhutla biasanya membuat satwa liar masuk ke kebun atau ladang warga. Kalau masyarakat melihat beruang madu, orangutan, atau satwa liar lainnya, segera laporkan kepada petugas. Jangan berusaha menangkap, melukai, apalagi membunuh satwa tersebut," tegasnya.
Tidak hanya orangutan, beruang madu juga berpotensi berpindah ke kawasan perkebunan maupun permukiman untuk menghindari kebakaran.
Di sisi lain, dampak karhutla justru lebih mematikan bagi satwa yang bergerak lambat, terutama reptil.
Muriansyah mengungkapkan, beberapa waktu lalu pihaknya menemukan ular yang mati terpanggang akibat kebakaran lahan di kawasan Jalan Lingkar Selatan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
"Jenis reptil seperti ular bahkan ditemukan mati terpanggang saat kebakaran," ungkapnya.
Ia menambahkan, berkurangnya populasi ular akibat karhutla dapat memicu dampak lanjutan terhadap keseimbangan ekosistem. Salah satunya meningkatnya populasi tikus yang selama ini menjadi mangsa alami ular.
"Kalau populasi ular berkurang, dampaknya populasi tikus bisa meningkat. Akhirnya yang dirugikan petani karena tanaman mereka berpotensi dirusak tikus," jelas Muriansyah.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila kembali menemukan satwa liar keluar dari habitatnya selama musim karhutla berlangsung. Langkah tersebut dinilai penting agar satwa dapat dievakuasi atau dipantau tanpa menimbulkan konflik dengan manusia. (oes)
Editor : Slamet Harmoko