Kabut Asap Di Sampit Makin Pekat, Warga Terpaksa Nyalakan Lampu saat Berkendara

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:32 WIB
Seorang anak berangkat sekolah diantar orang tuanya, menembus kabut asap akibat kebakaran lahan yang menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu pagi (5/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Seorang anak berangkat sekolah diantar orang tuanya, menembus kabut asap akibat kebakaran lahan yang menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu pagi (5/8/2026). (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Asap mulai terlihat sejak Selasa sore (4/8/2026 ), berlanjut sepanjang malam, hingga Rabu pagi (5/8/2026). Kondisi baru berangsur membaik sekitar pukul 07.00 WIB, meski kabut asap masih tampak di sejumlah kawasan.

Kabut asap yang semakin pekat membuat jarak pandang pengendara menurun. Sejumlah pengendara bahkan terpaksa menyalakan lampu kendaraan sejak pagi hari agar lebih mudah terlihat di jalan.

Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Sampit pada Malam Hari, Warga Mulai Keluhkan Bau Menyengat

"Jarak pandang terbatas, harus menyalakan lampu kendaraan saat pagi," ujar Rahmad, salah seorang warga Sampit.

Tidak hanya mengganggu aktivitas berkendara, warga juga mulai merasakan dampak langsung terhadap kesehatan. Udara terasa tidak nyaman saat dihirup karena bercampur asap, sehingga membuat napas terasa sesak. Paparan asap dalam waktu cukup lama juga menyebabkan mata mulai terasa perih.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap menyelimuti sejumlah ruas jalan utama di Kota Sampit, di antaranya Jalan Tjilik Riwut, Jalan Pramuka, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ahmad Yani, Jalan S. Parman, Jalan Kapten Mulyono, sebagian Jalan MT Haryono, hingga Jalan HM Arsyad.

Data Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur menunjukkan kondisi tersebut memang berdampak terhadap jarak pandang. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang tercatat hanya 500 meter dengan kondisi cuaca berkabut.

Baca Juga: Kekeringan mulai Meresahkan, Puluhan Ribu Kg Garam sudah Disemai di Awan 

Suhu udara berada di 19,9 derajat Celsius, kelembapan 98 persen, dengan angin bertiup dari barat laut berkecepatan 4 kilometer per jam.

Memasuki pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat kondisi berubah menjadi kabut asap dengan jarak pandang meningkat menjadi 800 meter.

Saat itu angin terpantau tenang (calm) dengan kecepatan 0 kilometer per jam, sehingga asap cenderung bertahan di sekitar permukaan dan menyelimuti kawasan perkotaan.

Kabut asap yang kembali menyelimuti Sampit terjadi di tengah masih tingginya aktivitas karhutla di Kotim. Data terbaru BMKG sebelumnya mencatat 75 hotspot tersebar di wilayah tersebut dalam 24 jam terakhir, dengan konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Kota Besi.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak.

Warga juga disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama anak-anak, lansia, serta kelompok yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan, mengingat kualitas udara berpotensi terus menurun selama kebakaran lahan masih terjadi. (oes/sla)

Editor : Slamet Harmoko
kabut asap kotim kabut asap smapit kabuta sap karhutla kotim