SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Dampak kemarau yang memicu kekeringan dan kebakaran lahan, semakin memantik keresahan warga. Terutama yang memiliki lahan perkebunan, pertanian yang selama ini mengandalkan air dari tanah.
Hariyadi, salah satu warga Kecamatan Cempaga mengatakan, kondisi di kekeringan di lingkungan tempat aktivitasnya sudah mengkhawatirkan. Menurutnya sudah banyak lahan warga mengering, sementara sumur dengan kedalaman sekitar tiga meter di kawasan gambut sudah tidak lagi mengeluarkan air.
"Saat ini lahan gambut sangat mudah terbakar karena benar-benar kering, sehingga membuat potensi kebakaran lahan semakin tinggi,” ujarnya.
Namun, ia menilai anggapan bahwa kebakaran selalu dipicu warga yang membuka lahan dengan cara membakar tidak sepenuhnya tepat.
"Kalau warga sengaja membakar lahan, saya rasa kecil kemungkinannya. Mereka juga tahu risikonya sangat besar. Yang lebih kami khawatirkan justru aktivitas orang yang mencari ikan di sungai atau kanal, maupun pekerja atau orang yang melintas di sekitar areal perkebunan lalu membuang puntung rokok sembarangan. Dalam kondisi gambut yang sudah kering seperti sekarang, percikan api sekecil apa pun bisa memicu kebakaran besar," papar Hariyadi.
Baca Juga: Tak Hanya Jaga TPA, DLH Kotim Siapkan Tangki Air untuk Warga Terdampak Kekeringan
Ia pun berharap ada instruksi tegas, terutama kepada perusahaan agar membuat cadangan air di sekitar areal perkebunan mereka, termasuk yang berbatasan dengan lahan masyarakat. Dirinya juga berharap upaya modifikasi cuaca yang dilakukan pemerintah segera membuahkan hasil, berupa hujan buatan untuk membasahi lahan yang kering.
Sementara itu, Anggota DPRD Kotawaringin Timur, Syahbana juga mendesak pemerintah mempercepat pembangunan kanal penampung air di kawasan gambut yang rawan terbakar. Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan sebelum sumber air benar-benar mengering.
"Daerah yang masih terjangkau air pasang harus segera dimanfaatkan untuk membuat kanal penampung air. Jangan menunggu titik api muncul baru bergerak," katanya.
Syahbana juga meminta seluruh kepala desa, relawan, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan pihak terkait diaktifkan sejak dini untuk memperkuat langkah pencegahan. Berdasarkan pengamatannya, hambatan terbesar saat kebakaran terjadi bukan kekurangan personel, melainkan sulitnya memperoleh sumber air di lokasi.
Ia menambahkan, pemerintah juga perlu mengerahkan alat berat seperti excavator ke titik-titik rawan kebakaran. Kanal pembatas dapat dibangun sekaligus difungsikan sebagai embung penampung air yang diisi menggunakan pompa berkapasitas besar.
"Kalau kanal dan cadangan air sudah tersedia, begitu muncul titik api petugas bisa langsung melakukan pemadaman. Pencegahan seperti ini jauh lebih efektif daripada menunggu api membesar,” imbuh Syahbana.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), untuk membantu mengatasi kebakaran lahan di wilayah Kalimantan Tengah.
Tidak hanya menambah armada pesawat, BNPB juga menerapkan strategi baru berupa fleksibilitas waktu operasi, sehingga penyemaian awan dapat dilakukan siang maupun malam hari apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Dalam arahannya, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta armada pesawat OMC disiagakan setiap saat dan dapat diterbangkan kapan pun dibutuhkan. Termasuk pada malam hari apabila Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya potensi pembentukan awan hujan.
BMKG juga diminta terus melakukan pemantauan dan pemetaan perkembangan awan secara intensif. Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim OMC untuk menentukan waktu terbaik melakukan penyemaian awan agar hasil operasi lebih optimal.
BNPB menilai strategi tersebut dapat memperbesar peluang turunnya hujan di wilayah terdampak karhutla.
"Curah hujan yang dihasilkan diharapkan mampu membantu proses pemadaman api, mempercepat pendinginan lahan gambut, sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain," terang Suharyanto.
Selain mengubah pola operasi, BNPB juga memperkuat dukungan logistik. Kepala BNPB menegaskan pentingnya menjaga ketersediaan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) agar operasi modifikasi cuaca dapat terus berlangsung tanpa hambatan saat kondisi cuaca mendukung.
Penguatan juga dilakukan dengan menambah armada pesawat OMC sekaligus memperluas pangkalan operasi. BNPB menyetujui penempatan satu pesawat tambahan di Pangkalan Bun, Kalteng, sehingga jangkauan operasi udara di wilayah rawan karhutla dapat dilakukan lebih cepat.
Sebelumnya, BNPB telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca tahap pertama di Kalimantan Tengah pada 16 hingga 30 Juni 2026.
Selama pelaksanaan operasi tersebut, pesawat mencatat total waktu terbang selama 63 jam 18 menit dalam 31 sorti penerbangan, dengan penggunaan 31.000 kilogram bahan semai NaCl.(ang/oes/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama