Pertalite Sulit Didapat, Warga Minta Pemkab Kotim Jangan Hanya Jadi Penonton

Rado. • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:34 WIB
ANTRE: Antrean kendaraan di SPBU Jalan Sudirman km 3, Senin (3/8/2026). (yuni/radar sampit)
ANTRE: Antrean kendaraan di SPBU Jalan Sudirman km 3, Senin (3/8/2026). (yuni/radar sampit)

 
SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur. Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan mengular sejak pagi. Banyak pengendara terpaksa menunggu hingga berjam-jam demi bisa mengisi tangki kendaraannya.

Bagi sebagian warga, kondisi ini bukan lagi persoalan sesaat. Antrean panjang sudah berulang kali terjadi, tetapi belum terlihat solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Salah seorang warga, Alfianur, mengaku waktunya banyak terbuang hanya untuk mendapatkan Pertalite. Padahal kendaraan yang digunakannya menjadi penunjang aktivitas sehari-hari.

"Kalau lagi panjang antreannya bisa berjam-jam. Mau kerja jadi terlambat, urusan lain juga ikut tertunda. Hampir setiap kali Pertalite susah, masyarakat yang menanggung akibatnya," ujarnya.

Menurut Alfianur, masyarakat sebenarnya tidak ingin mengetahui siapa yang salah. Yang mereka inginkan hanya satu, Pertalite tersedia ketika dibutuhkan.

Keluhan serupa disampaikan Agus Susanto. Ia menilai kondisi di Kotawaringin Timur berbeda dengan sejumlah daerah lain. Dari pengalamannya, antrean seperti yang terjadi di Sampit tidak ditemui saat berada di Banjarmasin.

"Saya baru dari Banjarmasin. Di sana isi Pertalite biasa saja, tidak sampai mengular seperti di Sampit. Artinya ada sesuatu yang perlu dijelaskan kepada masyarakat," katanya.

Agus berharap persoalan tersebut tidak berhenti sebatas keluhan warga. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur bersama DPRD mengambil langkah dengan menemui PT Pertamina Patra Niaga untuk meminta penjelasan mengenai kondisi distribusi Pertalite di daerah ini.

"Kalau memang kuotanya kurang, ya perjuangkan supaya ditambah. Kalau ada persoalan distribusi, minta dibenahi. Jangan hanya diam. Jangan sampai Kotim dianggap tidak punya persoalan karena tidak ada yang menyampaikannya," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah daerah memiliki posisi untuk menyuarakan kepentingan masyarakat kepada pemerintah pusat maupun Pertamina.

Karena itu, persoalan yang terus berulang seharusnya menjadi perhatian bersama, bukan hanya warga yang setiap hari harus mengantre di SPBU.

"Masyarakat sudah cukup lama bersabar. Sekarang yang dibutuhkan bukan penjelasan, tetapi langkah nyata supaya kondisi seperti ini tidak terus berulang," katanya.

Sulitnya memperoleh Pertalite bukan hanya berdampak pada pengguna kendaraan pribadi. Pelaku usaha kecil, pekerja harian, hingga warga desa yang harus menempuh perjalanan jauh menuju SPBU ikut merasakan dampaknya.

Waktu yang semestinya digunakan untuk bekerja habis di antrean, sementara kebutuhan BBM tetap harus dipenuhi.

Warga berharap pemerintah daerah tidak menunggu persoalan ini kembali reda dengan sendirinya. Mereka menginginkan ada upaya yang benar-benar dilakukan agar distribusi Pertalite di Kotawaringin Timur kembali normal dan antrean panjang tidak lagi menjadi pemandangan yang terus berulang. (ang)

Editor : Slamet Harmoko
Pertalite Langka di Kuala Pembuang pertamina pertalite bbm langka