SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sebaran titik panas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali berubah. Jika sebelumnya hotspot tersebar di sejumlah kecamatan, kini lebih dari separuh titik panas justru terkonsentrasi di Kecamatan Kota Besi.
Kondisi ini mempertegas bahwa wilayah tersebut menjadi episentrum baru ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode 24 jam terakhir yang diakses Selasa (4/8), terdapat 75 hotspot di Kotim. Dari jumlah tersebut, 43 titik atau sekitar 57 persen berada di Kecamatan Kota Besi.
Baca Juga: Rumah di Kawasan Padat Penduduk Ludes Terbakar, Api Diduga Berasal dari Dapur
Yang paling mencolok, Desa Camba menjadi penyumbang terbesar dengan 41 hotspot, sementara satu titik lainnya berada di Desa Kandan. Besarnya konsentrasi hotspot di satu desa menunjukkan kawasan tersebut masih menghadapi ancaman karhutla yang serius.
Data tersebut sejalan dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan laporan Posko Penanganan Karhutla BPBD Kotim sehari sebelumnya, kebakaran di Desa Camba masih dalam penanganan dan api dilaporkan masih aktif.
Salah seorang warga Desa Camba, Indri Yani, mengatakan kebakaran mulai terjadi pada Senin (3/8). Hingga Selasa, api disebut masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Baca Juga: Kebakaran Lahan Kepung Kompleks Perumahan di Sampit, Warga Panik Api Dekati Tiang Listrik
"Kebakarannya hari kemarin, tapi kabarnya hari ini masih aktif," ujarnya.
Selain Kota Besi, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang masih menjadi wilayah yang perlu diwaspadai. BMKG mendeteksi 11 hotspot, dengan 10 titik berada di Kelurahan Pasir Putih dan satu titik di Kelurahan Ketapang.
Wilayah pesisir juga mulai menunjukkan peningkatan aktivitas titik panas. Kecamatan Teluk Sampit mencatat enam hotspot, seluruhnya berada di Desa Ujung Pandaran.
Sementara itu, Kecamatan Parenggean juga mencatat enam hotspot, terdiri atas lima titik di Desa Kabuau dan satu titik di Desa Manjalin.
Hotspot lainnya terdeteksi di Kecamatan Baamang sebanyak tiga titik, Pulau Hanaut dua titik, Seranau dua titik, serta Mentaya Hilir Utara dua titik.
Meningkatnya jumlah hotspot terjadi ketika kondisi cuaca di Kotim masih belum mendukung proses pembasahan lahan secara alami. BMKG sebelumnya memprakirakan wilayah Kotim dalam 24 jam ke depan hanya didominasi cuaca berawan dengan peluang hujan yang sangat kecil.
Baca Juga: MAKIN MERAJALELA! Karhutla Belum Bisa Dijinakkan, Beberapa Titik Masih Membara hingga Hari Ini
Kondisi tersebut membuat risiko munculnya kebakaran baru masih tinggi, terutama di kawasan gambut yang telah mengering akibat musim kemarau.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur sendiri masih menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan hingga 26 Agustus 2026.
Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran, relawan, dan masyarakat terus melakukan patroli, pemadaman, serta pendinginan di sejumlah lokasi untuk mencegah kebakaran meluas.
Baca Juga: 'Yank Wes Yank' Viral di TikTok, Ini Fakta yang Sudah Diketahui dan Peringatan bagi Warganet
Masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api.
Di tengah cuaca yang masih kering dan jumlah hotspot yang terus meningkat, kewaspadaan menjadi kunci untuk menekan meluasnya karhutla di Kotim. (oes)
Editor : Slamet Harmoko