Respon Karhutla Terlalu Jauh, Satgas Usul Helikopter Water Bombing Standby di Sampit

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Helikopter water bombing saat beroperasi memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur. (Warga/Radar Sampit) 
Helikopter water bombing saat beroperasi memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur. (Warga/Radar Sampit) 

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Jarak respons penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur dinilai masih terlalu jauh.

Selama ini, helikopter water bombing masih berpangkalan di Palangka Raya sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menjangkau lokasi kebakaran di Kotim.

Kondisi itu mendorong Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim mengusulkan agar satu unit helikopter water bombing disiagakan di Sampit selama status tanggap darurat masih berlangsung.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat jumlah hotspot di Kotim terus meningkat dan kini telah melampaui 500 titik.

Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan kehadiran helikopter di Sampit akan memangkas waktu respons ketika terjadi kebakaran besar, terutama di kawasan gambut yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Kalau memang nanti dibutuhkan, kita sudah mengusulkan agar satu unit helikopter water bombing bisa standby di Sampit. Respons akan jauh lebih cepat dibanding harus berangkat dari Palangka Raya," ujarnya, Selasa (3/8/2026). 

Menurut Rihel, usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah provinsi dan instansi terkait.

Saat ini armada water bombing masih berada di Palangka Raya sehingga setiap pengerahan membutuhkan waktu tempuh tambahan sebelum tiba di lokasi kebakaran.

Sebagai bentuk kesiapan, Satgas juga mulai berkoordinasi dengan pengelola Bandara H Asan Sampit.

Pembahasan meliputi lokasi parkir helikopter, ketersediaan bahan bakar avtur, hingga dukungan operasional apabila armada harus bermalam di Sampit.

Meski begitu, Rihel menegaskan operasi water bombing bukan menjadi pilihan pertama. Tim darat akan lebih dulu melakukan ground check untuk memastikan api masih aktif, meluas, dan memang tidak memungkinkan dipadamkan secara manual.

"Kalau kebakaran masih bisa ditangani personel darat tentu kita padamkan sendiri. Water bombing menjadi pilihan terakhir ketika lokasi jauh, sumber air tidak ada, akses sulit, dan luas kebakaran terus bertambah," katanya.

Efektivitas operasi udara, lanjut Rihel, telah terbukti saat penanganan kebakaran di kawasan Kuala Kuayan. Dalam sehari, helikopter mampu melakukan 12 sorti hingga kobaran api berhasil dikendalikan.

Namun pekerjaan tidak berhenti setelah api padam. Satgas masih harus melakukan pendinginan untuk memastikan bara di lapisan gambut tidak kembali memicu kebakaran.

"Kendala terbesar saat pendinginan adalah sumber air yang jauh. Karena itu kami memanfaatkan embung dan membutuhkan personel lebih banyak agar bara benar-benar padam," jelasnya.

Di tengah upaya tersebut, tren karhutla di Kotim masih menunjukkan peningkatan. Titik kebakaran terus bermunculan, terutama di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7, yang beberapa kali mengalami kebakaran berulang.

Api juga meluas hingga Kilometer 12 dan Kilometer 13 yang didominasi lahan gambut dalam dengan akses pemadaman yang sulit.

Dampaknya mulai dirasakan masyarakat. Asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dan kualitas udara telah masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Rihel menilai kondisi itu perlu diantisipasi bersama karena berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Kondisi kualitas udara sudah tidak baik. Ini perlu menjadi perhatian bersama, termasuk kemungkinan penyesuaian jam belajar di sekolah maupun pembagian masker apabila kondisi asap semakin memburuk," pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
helikopter water bombing palangkaraya water bombing kotim