SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan kualitas udara di wilayah setempat mulai memburuk seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian jam masuk sekolah apabila kualitas udara terus menurun.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan hingga saat ini masih terdapat sejumlah lokasi yang mengeluarkan asap. Dampaknya mulai dirasakan terhadap kualitas udara di Kota Sampit dan sekitarnya.
“Masih ada beberapa lokasi yang mengeluarkan asap. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kualitas udara. Nilai ISPU juga sudah menunjukkan kondisi yang tidak baik,” katanya, Senin (3/8).
Menurut Rihel, apabila kualitas udara terus memburuk, pemerintah bersama instansi terkait akan mempertimbangkan sejumlah langkah mitigasi, di antaranya penyesuaian jam belajar di sekolah serta pembagian masker kepada masyarakat.
“Nanti akan dipertimbangkan apakah jam masuk sekolah perlu disesuaikan. Dari sektor kesehatan juga kemungkinan akan menyiapkan pembagian masker,” tambahnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan terakhir jumlah titik panas (hotspot) di Kotim telah mencapai lebih dari 500 titik. Sementara jumlah kejadian karhutla juga meningkat signifikan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
“Hotspot sekarang sudah lebih dari 500 titik. Jumlah kejadian kebakaran juga terus bertambah sehingga perlu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.
Meski demikian, Rihel menyebut beberapa lokasi yang sebelumnya menjadi perhatian mulai menunjukkan perkembangan positif. Di kawasan Ujung Pandaran, misalnya, titik panas yang sebelumnya terdeteksi di lahan seluas sekitar delapan hektare kini sudah tidak lagi terpantau.
Namun, kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7 hingga Kilometer 13 masih menjadi lokasi yang paling rawan karena kebakaran berulang dan berada di lahan gambut dengan kedalaman cukup tinggi.
“Di Kilometer 7 sudah beberapa kali muncul kembali. Asapnya cukup pekat hingga mengurangi jarak pandang. Kemudian meluas ke Kilometer 12 dan 13 yang didominasi lahan gambut,” jelasnya.
Untuk mendukung penanganan karhutla, operasi pemadaman udara melalui helikopter water bombing terus dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Rihel mengatakan, operasi water bombing yang sebelumnya dilaksanakan di kawasan Kuda Marleh, Desa Eka Bahurui, berhasil menekan kobaran api.
Meski api besar berhasil dipadamkan, proses pendinginan masih menghadapi kendala minimnya sumber air. Karena itu, petugas menerapkan sistem estafet menggunakan embung sebagai sumber pasokan air.
“Kalau api besar sudah padam, berikutnya tinggal pendinginan. Kendalanya tetap sama, yaitu sumber air yang jauh sehingga kami harus menggunakan embung secara estafet,” katanya.
Saat ini helikopter water bombing masih bersiaga di Palangka Raya. Namun, Satgas Karhutla Kotim telah mengusulkan agar satu unit helikopter ditempatkan di Sampit untuk mempercepat respons penanganan apabila terjadi kebakaran besar.
“Kami sudah menyampaikan permohonan agar satu unit helikopter bisa standby di Sampit. Nantinya keputusan berada di pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi,” terangnya.
Rihel menambahkan, penggunaan water bombing menjadi pilihan terakhir apabila kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau personel maupun peralatan darat, terutama di kawasan yang tidak memiliki sumber air dan akses menuju titik api sangat terbatas.(ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko