SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkapkan dua kendala utama yang dihadapi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026, yakni minimnya sumber air dan keterbatasan selang pemadaman.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman di sejumlah lokasi berlangsung lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan tantangan tersebut dirasakan hampir di seluruh titik kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut yang jauh dari sumber air.
“Selain lahan yang semakin kering, kendala utama kami adalah minimnya sumber air dan keterbatasan selang pemadaman,” ujarnya, belum lama ini.
Baca Juga: Dinyatakan Sehat, Seluruh Pasien Keracunan MBG di Kuala Pembuang Telah Dipulangkan
Salah satu lokasi yang menghadapi kendala tersebut berada di kawasan Kuda Marleh, Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Untuk menjangkau titik api, petugas harus membentangkan selang hingga sepanjang 500 meter dari sumber air terdekat.
“Air tidak tersedia cukup. Bahkan di Kuda Marleh, Desa Eka Bahurui, kami harus membentangkan selang sepanjang 500 meter menuju titik api,” katanya.
Menurut Multazam, keterbatasan debit air membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan secara terus-menerus. Air yang tersedia hanya mampu digunakan sekitar tiga jam, kemudian petugas harus menghentikan sementara operasi hingga sumber air kembali terisi.
“Air hanya bisa kami gunakan kurang lebih tiga jam. Setelah itu kami harus menunggu sampai sumber air kembali terisi,” jelasnya.
Selain persoalan air, BPBD Kotim juga menghadapi keterbatasan peralatan. Stok selang pemadaman yang tersedia di gudang saat ini hanya sekitar 10 gulung, jauh dari kebutuhan operasional di lapangan.
“Stok selang di kantor sudah tidak mencukupi. Kalau pun ada, sekarang paling tersisa sekitar 10 gulung,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, BPBD Kotim memiliki tujuh unit armada pemadam. Dalam kondisi ideal, setiap armada membutuhkan sekitar 20 gulung selang agar dapat beroperasi secara optimal.
Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan selang untuk unit pemadam portabel yang digunakan menjangkau titik api di lokasi yang sulit diakses kendaraan.
Baca Juga: 'Yank Wes Yank' Viral di TikTok, Ini Fakta yang Sudah Diketahui dan Peringatan bagi Warganet
“Rata-rata kami memiliki tujuh unit armada dan masing-masing idealnya membutuhkan sekitar 20 gulung selang. Itu belum termasuk kebutuhan unit-unit portabel,” ucapnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, BPBD Kotim bersama tim gabungan terus berupaya mengoptimalkan penanganan karhutla agar api tidak meluas.
Multazam berharap dukungan sarana dan prasarana, terutama penambahan selang pemadaman dan penyediaan sumber air di kawasan rawan kebakaran, dapat ditingkatkan sehingga penanganan karhutla selama musim kemarau berjalan lebih efektif. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko