Tidak hanya menambah armada pesawat, BNPB juga menerapkan strategi baru berupa fleksibilitas waktu operasi, sehingga penyemaian awan dapat dilakukan siang maupun malam hari apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan efektivitas penanganan karhutla yang masih menjadi ancaman selama musim kemarau. Dengan operasi yang lebih fleksibel, peluang memanfaatkan pertumbuhan awan hujan diharapkan semakin besar.
Baca Juga: Karhutla di Kotawaringin Barat masih Terjadi Setiap Hari
Dalam arahannya, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyantom meminta armada pesawat OMC disiagakan setiap saat dan dapat diterbangkan kapan pun dibutuhkan, termasuk pada malam hari apabila Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya potensi pembentukan awan hujan.
BMKG juga diminta terus melakukan pemantauan dan pemetaan perkembangan awan secara intensif.
Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim OMC untuk menentukan waktu terbaik melakukan penyemaian awan agar hasil operasi lebih optimal.
BNPB menilai strategi tersebut dapat memperbesar peluang turunnya hujan di wilayah terdampak karhutla.
"Curah hujan yang dihasilkan diharapkan mampu membantu proses pemadaman api, mempercepat pendinginan lahan gambut, sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain," katanya.
Baca Juga: Lahan Hangus mencapai 3.069,52 Hektare, Presiden Prabowo Soroti Karhutla di Kalteng
Selain mengubah pola operasi, BNPB juga memperkuat dukungan logistik. Kepala BNPB menegaskan pentingnya menjaga ketersediaan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) agar operasi modifikasi cuaca dapat terus berlangsung tanpa hambatan saat kondisi cuaca mendukung.
Penguatan juga dilakukan dengan menambah armada pesawat OMC sekaligus memperluas pangkalan operasi. BNPB menyetujui penempatan satu pesawat tambahan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, sehingga jangkauan operasi udara di wilayah rawan karhutla dapat dilakukan lebih cepat.
Sebelumnya, BNPB telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca tahap pertama di Kalimantan Tengah pada 16 hingga 30 Juni 2026.
Selama pelaksanaan operasi tersebut, pesawat mencatat total waktu terbang selama 63 jam 18 menit dalam 31 sorti penerbangan, dengan penggunaan 31.000 kilogram bahan semai NaCl.
Melalui strategi baru tersebut, BNPB berharap operasi udara dapat berjalan lebih responsif mengikuti dinamika cuaca. Dengan memanfaatkan setiap peluang pertumbuhan awan, upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah diharapkan menjadi lebih efektif sehingga dampak kebakaran terhadap lingkungan maupun masyarakat dapat ditekan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko