KUALA PEMBUANG, radarsampit.jawapos.com – Dugaan gangguan kesehatan (keracunan) setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Seruyan meluas.
Hingga Kamis (30/7/2026) petang, laporan tambahan korban tidak lagi hanya berasal dari SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, tetapi juga dari SMAN 1 Kuala Pembuang.
Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 124 siswa dan guru dari dua sekolah tersebut mengalami keluhan seperti diare, demam, pusing, mual, hingga muntah.
Di SMPN 1 Kuala Pembuang, jumlah warga sekolah yang terdampak mencapai sekitar 90 orang, terdiri atas sekitar 75 siswa dan 15 guru. Sementara itu, di SMAN 1 Kuala Pembuang, tercatat 30 siswa dan 4 guru mengalami gejala serupa.
Sebagian korban harus menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan lainnya mendapatkan penanganan di rumah maupun fasilitas kesehatan.
Dinkes Buka Posko dan Ambil Sampel Makanan
Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa dan Guru SMPN 1 Kuala Pembuang Dilarikan ke Fasilitas Kesehatan
Merespons meningkatnya jumlah laporan, Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan membuka posko pelayanan kesehatan di lingkungan SMPN 1 Kuala Pembuang agar pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Seruyan, Sarinah, mengatakan laporan pertama diterima dari tim Satuan Tugas (Satgas) pada Rabu (29/7) malam. Setelah menerima informasi tersebut, tim kesehatan langsung diterjunkan ke lokasi.
"Kami langsung melakukan pendataan. Dari hasil sementara, sekitar 90 siswa mengalami keluhan. Sebagian sudah lebih dulu mendapatkan penanganan di rumah sakit maupun dokter praktik," ujarnya.
Baca Juga: Setelah Santap MBG, Puluhan Pelajar SMPN 1 Kuala Pembuang Diare Massal, Dinkes Buka Posko di Sekolah
Posko kesehatan melibatkan tenaga medis dari Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Kuala Pembuang I. Langkah ini diambil karena jumlah pasien cukup banyak, sementara tenaga dokter di puskesmas terbatas.
Meski dugaan awal mengarah pada makanan yang dikonsumsi siswa, Dinkes menegaskan belum dapat memastikan penyebab kejadian.
"Hari ini kami mengambil sampel makanan dari dapur SPPG untuk diperiksa di Labkesda. Sesuai SOP, setiap menu memang disimpan minimal 2x24 jam sehingga sampel masih tersedia," jelas Sarinah.
Ia menambahkan, hasil pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab pasti sekaligus langkah penanganan selanjutnya.
Kepala Sekolah Sebut Telur Berbau Tidak Normal
Kepala SMPN 1 Kuala Pembuang, Mardiana, menjelaskan menu MBG dibagikan kepada siswa pada Selasa (28/7), sementara keluhan mulai muncul keesokan harinya.
Menurutnya, ia baru sempat mencicipi makanan sekitar pukul 11.00 WIB setelah seluruh siswa selesai makan karena sedang mendampingi kegiatan Pramuka.
"Saya langsung mencium bau yang tidak sedap dari lauk telur. Saya minta dibuatkan berita acara dan memberikan penilaian kualitas rendah karena makanan itu tidak layak dikonsumsi," katanya.
Baca Juga: Korban Bertambah, Orang Tua Ungkap Anak Alami Mual dan Demam Tinggi Usai Santap MBG
Menu yang disajikan saat itu terdiri atas nasi uduk, telur orak-arik, tumis kol dan wortel, serta buah naga. Dari seluruh menu tersebut, Mardiana menilai hanya lauk telur yang memiliki aroma tidak normal.
Ia juga menyebut beberapa guru yang tidak mengonsumsi telur dilaporkan tidak mengalami gangguan kesehatan. Namun demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium.
Orang Tua Ceritakan Kondisi Anak
Salah seorang siswa kelas IX bahkan harus menjalani perawatan di RS Kuala Pembuang akibat mual, muntah, dan demam tinggi.
Ibunya, Yeni Sulistiani, mengatakan anaknya hanya sempat menghabiskan empat hingga lima suap makanan sebelum mengeluhkan pusing dan mual.
"Sesudah makan langsung bilang pusing dan mual. Sampai malam muntah terus, demamnya mencapai hampir 40 derajat," tuturnya.
Meski demikian, Yeni mengaku belum ingin menyimpulkan penyebab kondisi yang dialami anaknya.
"Saya tidak berani menyebut keracunan. Yang saya tahu, setelah makan itu anak saya langsung mengeluh pusing. Orang tua siswa lain juga menyampaikan hal yang sama, tetapi semuanya masih dugaan," katanya.
Penyedia MBG Lakukan Evaluasi
Sementara itu, Ahli Gizi penyedia MBG SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang 1, Virda Amalia, memastikan seluruh makanan yang didistribusikan telah melalui uji organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, aroma, dan rasa sebelum dikirim ke sekolah.
Ia mengatakan laporan pertama mengenai dugaan masalah makanan diterima pada Rabu sore dari SMPN 1 Kuala Pembuang dan langsung ditindaklanjuti dengan investigasi.
"Kami langsung melakukan investigasi. Sebelum didistribusikan makanan sudah melalui uji organoleptik. Di sekolah juga ada pemeriksaan kembali oleh penanggung jawab sebelum dibagikan kepada siswa," ujarnya.
Pada hari distribusi, sebanyak 653 porsi makanan dikirim ke SMPN 1 Kuala Pembuang, sedangkan distribusi ke tingkat SMA mencapai 1.026 porsi.
Sebagai langkah evaluasi, pihak penyedia menyatakan akan meninjau kembali penyusunan menu agar menggunakan bahan pangan yang lebih tahan terhadap perubahan kualitas selama proses distribusi.
Hingga Kamis sore, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami puluhan siswa dan guru masih menunggu hasil investigasi epidemiologi serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Pemerintah mengimbau masyarakat menunggu hasil resmi pemeriksaan sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kejadian tersebut. (rdw/sla)
Editor : Slamet Harmoko