SPPG Seruyan Hilir Investigasi Dugaan Keracunan MBG, Laporan Pertama Berasal dari SMPN 1 Kuala Pembuang

M. Rifani Dewantara • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 17:25 WIB
Ahli Gizi penyedia MBG dari SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang 1, Virda Amalia saat memberikan keterangan pers di hadapan awak media. (Rifani/Radar Sampit)
Ahli Gizi penyedia MBG dari SPPG Seruyan Hilir Kuala Pembuang 1, Virda Amalia saat memberikan keterangan pers di hadapan awak media. (Rifani/Radar Sampit)

KUALA PEMBUANG, radarsampit.jawapos.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Seruyan Hilir Kuala Pembuang 1 melakukan investigasi menyusul laporan dugaan keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Laporan pertama diterima dari SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, yang kemudian menjadi dasar dilakukannya penelusuran terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan.

Ahli Gizi penyedia MBG, Virda Amalia, mengatakan seluruh makanan yang didistribusikan ke sekolah maupun posyandu telah melalui uji organoleptik, yakni pemeriksaan kualitas berdasarkan warna, aroma, dan rasa sebelum dikirim kepada penerima manfaat.

Baca Juga: Setelah Santap MBG, Puluhan Pelajar SMPN 1 Kuala Pembuang Diare Massal, Dinkes Buka Posko di Sekolah

Menurutnya, prosedur tersebut merupakan tahapan wajib untuk memastikan makanan dalam kondisi layak konsumsi.

"Setiap sebelum didistribusikan kami melakukan uji organoleptik, mulai dari warna, rasa, hingga baunya. Setelah dipastikan dalam kondisi baik, baru makanan dibagikan," ujar Virda saat ditemui, Kamis (30/7).

Ia menjelaskan, menu yang didistribusikan pada Selasa (28/7) terdiri atas nasi uduk, telur orak-arik, tumis kol dan wortel, serta buah naga.

Virda mengungkapkan pihaknya baru menerima laporan dugaan adanya masalah pada makanan pada Rabu (29/7) sore. Informasi pertama berasal dari SMP Negeri 1 Kuala Pembuang.

Baca Juga: Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa dan Guru SMPN 1 Kuala Pembuang Dilarikan ke Fasilitas Kesehatan

"Kami menerima laporan kemarin sore, kemudian hari ini kami melakukan investigasi lanjutan," katanya.

Selain pemeriksaan yang dilakukan di dapur produksi, setiap sekolah juga dibekali lembar uji organoleptik yang harus diisi oleh penanggung jawab sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan makanan yang dinilai tidak layak konsumsi, sekolah memiliki kewenangan untuk menolak dan tidak mendistribusikannya kepada peserta didik.

"Penanggung jawab di sekolah memeriksa terlebih dahulu. Kalau memang tidak layak, sekolah berhak tidak membagikan makanan tersebut kepada anak-anak," jelasnya.

Pada hari distribusi, sebanyak 653 porsi makanan disalurkan ke SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, termasuk untuk tenaga pendidik. Sementara itu, distribusi ke jenjang SMA mencapai 1.026 porsi.

Baca Juga: Korban Bertambah, Orang Tua Ungkap Anak Alami Mual dan Demam Tinggi Usai Santap MBG

Virda menambahkan, makanan dikirim ke SMP Negeri 1 Kuala Pembuang sekitar pukul 10.00 WIB dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 11.00 WIB.

Sebagai langkah evaluasi, pihak penyedia MBG akan melakukan penyesuaian menu agar lebih tahan selama proses distribusi dan tidak mudah mengalami penurunan kualitas.

"Ke depan kami akan lebih selektif memilih menu, terutama yang tidak rentan basi. Kami akan mengikuti saran dari pihak sekolah agar kejadian seperti ini tidak terulang," pungkasnya.

Hingga kini, investigasi masih berlangsung untuk memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG agar keamanan pangan bagi para siswa tetap terjamin. (rdw/sla)

 
 
 
Editor : Slamet Harmoko
smpn 1 kuala pembuang Keracunan MBG Seruyan keracunan mbg seruyan