Dampak Karhutla Meningkatkan Penderita ISPA di Kalteng.Masyarakat Diajak Panjatkan Doa Minta Hujan

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 21:34 WIB
Pemadaman salah satu kejadian Karhutla di sekitar Kota Palangka Raya, baru-baru tadi. (dok.BPBD Palangka Raya)
Pemadaman salah satu kejadian Karhutla di sekitar Kota Palangka Raya, baru-baru tadi. (dok.BPBD Palangka Raya)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengepung berbagai wilayah di Kalimantan Tengah (Kalteng), sudah berdampak pada menurunnya kualitas udara dan hadirnya kabut ber-aroma asap.

Selain itu, paparan partikel polusi dan asap juga memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng mencatat, sepanjang 1 Januari hingga 23 Juli 2026, terdapat 84.065 kasus ISPA di seluruh kabupaten/kota di provinsi ini.

Kasus terbanyak tercatat di Kota Palangka Raya dengan 12.394 kasus, disusul Kotawaringin Timur sebanyak 12.023 kasus, dan Kapuas sebanyak 9.602 kasus. Sementara itu, tiga daerah dengan kasus terendah yakni Sukamara sebanyak 1.594 kasus, Gunung Mas 2.234 kasus, dan Katingan 3.036 kasus.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr Mikko Uriamapas Ludjen, mengatakan, pihaknya terus mengoordinasikan penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan masker dan perlengkapan medis kepada petugas yang berada di garis depan penanganan.

Selain itu, Dinkes mengimbau kelompok rentan seperti lansia, balita, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta agar membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih terjadi.

Masyarakat juga diminta selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya.

"Khusus ibu hamil dan lansia, kami anjurkan mengonsumsi makanan bergizi dan minum air yang cukup agar daya tahan tubuh tetap terjaga," ujarnya, Selasa (28/7).

Baca Juga: Menuju Bencana Kabut Asap, Kalteng Status Siaga Darurat Karhutla 

Sementara itu, Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan, mengajak seluruh masyarakat memanjatkan doa, agar hujan segera turun di tengah kondisi cuaca dan dampak karhutla saat ini.

Menurutnya, doa merupakan ikhtiar spiritual yang harus berjalan seiring dengan berbagai langkah pencegahan karhutla yang dilakukan pemerintah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan.

"Kami mengajak seluruh masyarakat Kalteng untuk bersama-sama berdoa memohon agar Allah SWT menurunkan hujan sebagai rahmat bagi daerah kita. Semoga dengan turunnya hujan, ancaman kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah serta aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan aman dan lancar," imbuh Iwan Kurniawan.

Menurutnya, pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Karena itu, Polda Kalteng terus mengintensifkan patroli, pemantauan daerah rawan karhutla, edukasi kepada masyarakat, serta memperkuat koordinasi lintas instansi.

"Kami berharap ikhtiar lahir dan batin yang dilakukan secara bersama-sama dapat membawa manfaat bagi masyarakat Kalteng, menjaga kelestarian lingkungan, serta mencegah meluasnya lahan terbakar yang berdampak pada kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat," imbuh Iwan Kurniawan.

Di tengah meningkatnya kabut asap, penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya hingga masih normal.

General Manager Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan, mengatakan kabut asap baru muncul Selasa (28/7), sehingga belum memengaruhi aktivitas penerbangan.

"Sejauh ini kondisi penerbangan masih belum terganggu karena kemunculan kabut baru hari ini. Kami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang dalam beberapa hari ke depan," terangnya.

Menurut dia, pihak bandara terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia, BMKG, maskapai penerbangan, serta seluruh pemangku kepentingan guna memastikan keselamatan dan kelancaran operasional apabila kabut asap semakin pekat.

“Jarak pandang masih dalam batas aman. Syarat minimum jarak pandang untuk operasional penerbangan adalah 1.000 meter. Kami berharap penanganan karhutla dapat berjalan optimal sehingga kabut asap tidak semakin tebal dan operasional penerbangan tetap berlangsung dengan aman dan lancar," ujarnya.

Terpisah, karhutla masih terus terjadi di wilayah Kabupaten Kotim hingga Selasa (28/7). Paling baru terjadi, yakni di sekitar kilometer 8 Jalan Sudirman Sampit, yang lokasinya berdekatan dengan jalan trans Kalimantan. Asap tebal nampak membumbung tinggi, hingga sempat menyebar menutupi jarak pandang pengguna jalan di kawasan tersebut.

Tim gabungan pun, terus berjibaku berusaha memadamkan kebakaran lahan yang ditengarai akibat ulah manusia itu.

Sementara itu, data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencapat jumlah hotspot atau titik panas di Kotim kembali meningkat menjadi 14 titik dalam 24 jam lalu.

Pada Selasa (28/7/2026) pukul 07.00 WIB, titik panas tersebut tersebar di delapan kecamatan. Wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak berada di Kecamatan Parenggean yang mencatat empat titik panas di Desa Tehang.

Selain itu, dua hotspot terdeteksi di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tepatnya di Desa Eka Bahurui. Dua titik lainnya berada di Kecamatan Bukit Santuai, masing-masing di Desa Tumbang Tilap dan Tumbang Kania. Kecamatan Telaga Antang juga mencatat dua hotspot yang berada di Desa Rantau Suang dan Tumbang Puan.

Sementara itu, masing-masing satu hotspot terpantau di Kecamatan Antang Kalang (Desa Kuluk Telawang), Cempaga Hulu (Desa Pelantaran), Kota Besi (Desa Soren), dan Teluk Sampit (Desa Lampuyang).

"Kenaikan jumlah hotspot tersebut terjadi ketika kondisi cuaca masih belum mendukung turunnya hujan dalam intensitas yang mampu membantu pemadaman karhutla," ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, Selasa (28/7).

Kemudian berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, wilayah Kotawaringin Timur pada periode 28 hingga 29 Juli ada berpotensi mengalami kondisi berawan hingga turun hujan ringan.

Di sisi lain, analisis parameter cuaca BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim, masih berada pada kategori sangat mudah terbakar.Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga 29 Juli, sehingga potensi munculnya kebakaran baru tetap perlu diwaspadai.(daq/oes/gus)

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
berdoa minta hujan Kasus ISPA Kapolda Kalteng karhutla