Kualitas Udara di Ibu Kota Kalteng dan Sampit sudah Tidak Sehat

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 21:41 WIB
Tim gabungan saat berupaya memadamkan Karhutla di sekitar Kota Palangka Raya, baru-baru tadi. (istimewa/BPBD Kota)
Tim gabungan saat berupaya memadamkan Karhutla di sekitar Kota Palangka Raya, baru-baru tadi. (istimewa/BPBD Kota)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com-Dampak karhutla di Kalteng sudah menurunkan kualitas udara, dan rentan mengganggu kesehatan masyarakat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalteng Joni Harta mengungkapkan, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kota Palangka Raya mencapai 155 mikrogram per meter kubik (µg/m³), pada Senin (27/7) pukul 12.00 WIB.

"Angka tersebut sudah masuk kategori tidak sehat. Polutan PM2.5 merupakan komponen utama yang terdapat dalam asap hasil pembakaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan," ujarnya,Senin (27/7).

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kotim dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 119 µg/m³, sehingga kualitas udaranya juga berada pada kategori tidak sehat. Kemudian, terpantau juga kualitas udara di Kabupaten Pulang Pisau, yang masih berada pada kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 66 µg/m³.

Menurut Joni, memburuknya kualitas udara dipastikan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

Sebagai upaya menahan semakin memburuknya kualitas udara, Pemprov Kalteng juga telah mengajukan permohonan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar dilakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah rawan karhutla.

Baca Juga: Kualitas Udara di Sampit mulai Menurun. Rawan untuk Kelompok Rentan

"Kemungkinan dalam waktu dekat OMC akan disetujui dan dilaksanakan di wilayah yang rawan maupun telah terjadi kebakaran hutan dan lahan," ungkap Joni.

Selain itu masyarakat di daerah yang kualitas udaranya masuk kategori tidak sehat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini Nur juga menyatakan kualitas udara di Palangka Raya mulai memburuk.

Berdasarkan pemantauan hingga Senin (27/7) pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Kota Palangka Raya mencapai 138 mikrogram per meter kubik (µg/m³) atau sudah masuk kategori tidak sehat.

Kemudian lanjutnya, kualitas udara di Pangkalan Bun masih berada pada kategori baik."Semakin tebal asap di suatu wilayah maka konsentrasi PM2.5 akan semakin tinggi," sebutnya.

Ia menjelaskan, PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang berasal dari asap kendaraan, industri, rokok maupun kebakaran hutan dan lahan. Karena ukurannya sangat halus, partikel tersebut mudah masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr. Mikko Uriamapas Ludjen juga mengungkapkan, kabut asap mulai berdampak terhadap meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, tahun 2026 ini kasus ISPA terbanyak terdapat di Kota Palangka Raya sebanyak 12.394 kasus, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur 12.023 kasus, dan Kabupaten Kapuas 9.602 kasus.

Selain memantau perkembangan ISPA, Dinas Kesehatan juga memberikan dukungan kesehatan kepada personel Satgas Karhutla yang bertugas di lapangan, khususnya di Posko Tumbang Nusa.

"Kami memberikan dukungan kesehatan mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemberian obat-obatan, hingga masker kepada personel di posko," terang Mikko.

Dinas Kesehatan juga mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis agar mengurangi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih berlangsung.

Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan lainnya.

"Kalau kualitas udara semakin memburuk, kami sudah menyiapkan fasilitas oksigen untuk keadaan darurat. Rencananya akan dibuat dua rumah singgah oksigen sambil melihat perkembangan kondisi di lapangan,"pungkas Mikko.

Sementara itu, Polda Kalteng melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menyalurkan 400 masker KN95, vitamin dan oxycan kepada personel Satgas Karhutla yang bertugas di Pos Karhutla Km 16.

Kabiddokkes Polda Kalteng dr Yusuf Kidingalli mengatakan, bantuan tersebut bertujuan menjaga kesehatan personel yang setiap hari bekerja di lokasi kebakaran.

Menurutnya, kesehatan personel menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanganan karhutla sehingga dukungan medis akan terus diberikan selama musim kemarau berlangsung.

“Jangan sampai hal-hal tak dinginkan terjadi.Kesehatan personel merupakan faktor penting dalam keberhasilan penanganan karhutla. Karena itu, kami terus berupaya memberikan dukungan medis dan perlengkapan kesehatan agar mereka tetap prima selama bertugas," pungkas Yusuf. (daq/gus)

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
PALANGKA RAYA dinas lingkungan hidup kalteng kualitas udara tidak sehat