Hotspot Turun, Tapi Ancaman Karhutla Belum Usai: BMKG Sebut Peluang Hujan Masih Sangat Kecil Hingga Pertengahan Agustus

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:49 WIB
Kebakaran lahan di Jalan Sawit Raya, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Belum lama ini menjalar ke tepi jalan. (Warga/Radar Sampit) 
Kebakaran lahan di Jalan Sawit Raya, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Belum lama ini menjalar ke tepi jalan. (Warga/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam 24 jam terakhir memang menunjukkan tren menurun.

Namun, kondisi itu belum menjadi alasan untuk lengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru mengingatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih tinggi karena peluang hujan lebat hingga pertengahan Agustus diperkirakan sangat kecil.

Berdasarkan pembaruan rekapitulasi hotspot BMKG yang diakses pada Senin (27/7/2026) pukul 07.00 WIB, masih terdeteksi 10 titik panas di wilayah Kotim.

Titik-titik tersebut tersebar di Kecamatan Antang Kalang sebanyak tiga titik, Teluk Sampit dua titik, serta masing-masing satu titik di Kecamatan Telawang, Cempaga, Mentaya Hulu, Mentaya Hilir Utara, dan Parenggean.

Baca Juga: Hadapi Puncak Kemarau, Gubernur Agustiar Perintahkan Respons Cepat Karhutla

Meski jumlahnya lebih rendah dibanding beberapa hari sebelumnya, kondisi cuaca belum memberikan harapan besar untuk membantu proses pemadaman alami.

Dalam analisis parameter cuaca BMKG, sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotawaringin Timur, masih berada pada kategori sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga 28 Juli 2026, meski di beberapa wilayah mulai muncul zona dengan tingkat kerawanan yang lebih rendah.

Yang lebih mengkhawatirkan, prakiraan curah hujan probabilistik BMKG menunjukkan peluang terjadinya hujan lebat dengan akumulasi lebih dari 100 milimeter masih berada di bawah 10 persen.

Baca Juga: Kualitas Udara di Sampit mulai Menurun. Rawan untuk Kelompok Rentan

Prediksi itu berlaku pada Dasarian III Juli (21-31 Juli), Dasarian I Agustus (1-10 Agustus), hingga Dasarian II Agustus (11-20 Agustus). Dengan kata lain, belum terlihat indikasi hujan signifikan yang dapat membantu menurunkan potensi kebakaran lahan dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya kewaspadaan BPBD Kotim terhadap dampak musim kemarau yang tidak hanya memicu karhutla, tetapi juga mulai mengancam ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengingatkan bahwa jika kebakaran terus meningkat, petugas bisa dihadapkan pada pilihan sulit antara mengalokasikan air untuk pemadaman atau memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Ia berharap karhutla dapat dikendalikan sehingga distribusi air bersih kepada warga, khususnya di daerah yang mulai mengalami kekeringan, tetap dapat berjalan.

BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi apa pun. Cuaca panas, minim hujan, dan tingkat kekeringan vegetasi membuat api sangat mudah menyebar serta sulit dikendalikan.

Meski jumlah hotspot saat ini menurun, kombinasi cuaca kering dan peluang hujan yang masih rendah menunjukkan ancaman karhutla di Kotawaringin Timur belum berakhir. Kewaspadaan seluruh pihak tetap menjadi kunci agar musim kemarau tahun ini tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
hotspot BMKG karhutla hujan