Tangkal Malaria Impor, Puluhan ABK di Pelabuhan Kumai Jalani Rapid Test

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 15:55 WIB
Skrining Anak Buah Kapal (ABK) yang sandar di Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu 25 Juli 2026. (Dinkes Kobar/Radar Sampit)
Skrining Anak Buah Kapal (ABK) yang sandar di Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu 25 Juli 2026. (Dinkes Kobar/Radar Sampit)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memperkuat upaya pencegahan masuknya kasus malaria impor dengan menggelar Survei Migrasi Malaria di Pelabuhan Panglima Utar Kumai, Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan tersebut menyasar anak buah kapal (ABK) yang memiliki mobilitas tinggi antardaerah.

Survei dilakukan Dinkes Kobar bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit Wilayah Kerja Pelabuhan Kumai serta Puskesmas Kumai sebagai bagian dari upaya mempertahankan status eliminasi malaria yang telah diraih Kabupaten Kotawaringin Barat.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 25 ABK menjalani pendataan, wawancara terkait riwayat perjalanan, pemeriksaan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria, serta mendapatkan edukasi mengenai gejala, pencegahan, dan pentingnya pemeriksaan dini apabila mengalami demam setelah bepergian dari wilayah endemis malaria.

Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta atau 100 persen memperoleh hasil nonreaktif sehingga tidak ditemukan indikasi kasus malaria pada skrining tersebut.

Kepala Dinkes Kobar Hardino melalui Pejabat Fungsional Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Bajuri, mengatakan survei migrasi merupakan langkah strategis untuk memastikan status eliminasi malaria di Kobar tetap terjaga.

“Meskipun hasil pemeriksaan seluruh ABK menunjukkan nonreaktif, kegiatan survei migrasi seperti ini tetap sangat penting dilaksanakan secara berkala,” ujarnya.

Menurut Bajuri, tingginya mobilitas awak kapal menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena berpotensi membawa kasus malaria dari daerah endemis. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting agar kasus impor dapat segera ditangani sebelum terjadi penularan di masyarakat.

Ia menegaskan, keberhasilan mempertahankan status eliminasi malaria tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan lintas sektor serta kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala malaria dan segera memeriksakan diri apabila mengalami demam setelah bepergian ke wilayah endemis.

“Sinergi seperti ini menjadi kunci dalam memperkuat surveilans malaria sehingga Kabupaten Kotawaringin Barat tetap mampu mempertahankan status eliminasi malaria,” pungkasnya. (tyo/sla)

Editor : Slamet Harmoko
Cegah malariaKobar malaria pelabuhan kumai Pangkalan Bun abk