SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini mulai menghantam sumber penghidupan warga.
Kebun kelapa sawit milik petani di Desa Babirah, Kecamatan Pulau Hanaut, ikut dilalap api yang hingga kini dilaporkan masih bergerak menuju wilayah Desa Bapinang Hilir.
Salah seorang petani, Hasmi, hanya bisa pasrah melihat kebun sawit yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarganya hangus terbakar.
"Jika sudah begini, apalah daya. Penghasilan sudah di depan mata, luluh seketika akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab," ujarnya dengan nada kecewa.
Menurut Hasmi, kebakaran mulai terjadi di wilayah Desa Babirah pada Kamis (23/7). Hingga Jumat (24/7), api disebut masih belum sepenuhnya padam dan bahkan terus merambat ke arah Desa Bapinang Hilir.
Peristiwa tersebut menambah panjang daftar kerugian masyarakat akibat karhutla yang melanda Kotim selama musim kemarau tahun ini.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat hingga 23 Juli 2026 telah terjadi 93 kejadian karhutla dengan 102 kali penanganan. Luas lahan yang berhasil didata terbakar mencapai 191,85630 hektare.
Wilayah tengah menjadi kawasan dengan dampak terparah. Total luas lahan yang terbakar di kawasan ini mencapai 110,02730 hektare atau sekitar 57,35 persen dari keseluruhan area yang terbakar di Kotim.
Sementara wilayah selatan menyumbang 80,37900 hektare atau 41,90 persen, sedangkan wilayah utara tercatat 1,45000 hektare atau 0,76 persen.
Selain luas kebakaran yang terus bertambah, jumlah hotspot di Kotim juga terus meningkat. Hingga 24 Juli 2026, BPBD mencatat total 559 hotspot, bahkan sudah melampaui jumlah hotspot sepanjang tahun 2025 yang berjumlah 453 titik.
Kondisi tersebut menunjukkan ancaman karhutla masih tinggi, terlebih cuaca kering dan minim hujan masih mendominasi sebagian besar wilayah Kotim.
Bagi Hasmi, angka-angka tersebut kini bukan sekadar data statistik. Di balik luas lahan yang terbakar, ada kebun produktif yang menjadi sumber nafkah keluarga.
Ia berharap aparat dapat mengusut tuntas penyebab kebakaran, terutama apabila terbukti dipicu oleh aktivitas pembakaran yang dilakukan secara sengaja.
"Kami ini hanya ingin berkebun dengan tenang. Jangan sampai karena ulah segelintir orang, masyarakat yang mencari nafkah dari kebun justru menjadi korban," katanya.
Warga juga berharap kebakaran yang masih bergerak menuju wilayah Desa Bapinang Hilir dapat segera dikendalikan agar tidak menghanguskan lebih banyak kebun maupun lahan milik masyarakat.
Informasi mengenai kebakaran yang merambat ke arah Bapinang Hilir masih berasal dari laporan warga di lapangan dan situasinya terus dipantau. (oes)
Editor : Slamet Harmoko