Hotspot Kotim Tembus 559 Titik, Sudah Lampaui Jumlah Total Tahun 2025

Usay Nor Rahmad • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 13:56 WIB
Petugas Disdamkarmat Kotim saat memadamkan api di lahan di Jalan Tidar 3, dekat dengan kompleks perumahan warga, belum lama ini. (Disdamkarmat Kotim)
Petugas Disdamkarmat Kotim saat memadamkan api di lahan di Jalan Tidar 3, dekat dengan kompleks perumahan warga, belum lama ini. (Disdamkarmat Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus melonjak sepanjang musim kemarau 2026.

Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim per 24 Juli 2026 pukul 13.38 WIB, total hotspot telah mencapai 559 titik, melampaui akumulasi sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebanyak 453 titik.

“Artinya, hingga akhir Juli ini jumlah hotspot di Kotim sudah bertambah 106 titik atau sekitar 23,4 persen lebih banyak dibandingkan total satu tahun penuh pada 2025,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Beberapa Jenis Angkutan Berat Dilarang masuk Kota Sampit. Terutama Truk Tronton dan CPO

Lonjakan tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas titik panas yang signifikan, meski musim kemarau masih berlangsung dan diperkirakan belum mencapai puncaknya.

Data BPBD memperlihatkan Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 99 titik. Angka itu melonjak drastis dibandingkan tahun lalu yang hanya mencatat enam titik panas.

Posisi kedua ditempati Antang Kalang dengan 87 hotspot, disusul Telaga Antang sebanyak 77 titik. Sementara itu, Mentaya Hulu dan Mentawa Baru Ketapang masing-masing mencatat 41 titik, sedangkan Mentaya Hilir Utara mencapai 34 titik.

Kecamatan lain yang juga mencatat peningkatan cukup tinggi yakni Baamang sebanyak 30 hotspot, Telawang 27 titik, Bukit Santuai 26 titik, Tualan Hulu 24 titik, Parenggean dan Cempaga masing-masing 18 titik, Cempaga Hulu 17 titik, Teluk Sampit 16 titik, Seranau dua titik, serta Pulau Hanaut dan Mentaya Hilir Selatan masing-masing satu titik.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Tak Manjur Karhutla di Kotim Kian Mengganas

Berdasarkan distribusi bulanan, lonjakan terbesar terjadi pada Juli 2026 dengan tambahan 334 hotspot. Jumlah itu jauh melampaui akumulasi pada bulan-bulan sebelumnya, yakni Januari 113 titik, Februari dua titik, Maret 36 titik, April 22 titik, Mei sembilan titik, dan Juni 43 titik.

Tidak hanya jumlah hotspot yang meningkat, luas lahan terbakar juga terus bertambah. Hingga 23 Juli 2026, BPBD mencatat 93 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan 102 penanganan, karena beberapa lokasi memerlukan penanganan berulang.

Akumulasi luas lahan yang terbakar telah mencapai 191,85630 hektare.

Wilayah tengah menjadi kawasan yang paling terdampak dengan luas kebakaran mencapai 110,0273 hektare atau 57,35 persen dari total luas lahan terbakar di Kotim.

Disusul wilayah selatan seluas 80,37900 hektare atau 41,90 persen, sedangkan wilayah utara hanya 1,45 hektare atau 0,76 persen.

Jika dilihat per kecamatan, Baamang menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 55,61730 hektare. Posisi berikutnya ditempati Parenggean seluas 41,5 hektare, Mentawa Baru Ketapang 41,021 hektare, Pulau Hanaut 20,75 hektare, serta Teluk Sampit 8,3 hektare.

Meski beberapa kecamatan memiliki jumlah hotspot yang tinggi, tidak seluruhnya berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar.

Kondisi ini menunjukkan karakteristik kebakaran berbeda di setiap wilayah, dipengaruhi jenis vegetasi, kondisi lahan, serta kecepatan penanganan petugas di lapangan.

Sementara itu, kondisi cuaca yang masih kering diperkirakan berpotensi mempertahankan tingginya aktivitas hotspot dalam beberapa waktu ke depan apabila tidak disertai hujan yang merata. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Hotspot Kotim karhutla kotim hotspot