SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum mampu menahan laju kebakaran.
Memasuki puncak musim kemarau, jumlah titik panas terus bertambah, luas lahan yang terbakar mencapai ratusan hektare, bahkan BPBD mulai mengkaji kenaikan status dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Hingga 23 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat terdapat 559 titik panas (hotspot), 93 kejadian kebakaran, dan 192 hektare lahan telah hangus terbakar.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi karhutla saat ini terus dipantau karena tren kejadian mengalami peningkatan. Bahkan, BPBD tengah mengkaji kemungkinan menaikkan status penanganan karhutla dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
"Beberapa indikator sudah mulai terpenuhi. Frekuensi kebakaran meningkat, jumlah hotspot terus bertambah, dan kondisi lahan gambut juga semakin kering," kata Multazam (24/7/2026)
Berdasarkan data BPBD setempat, Kecamatan Baamang menjadi wilayah dengan kebakaran terluas, yakni mencapai 55,76 hektare. Disusul Parenggean seluas 41,5 hektare dan Mentawa Baru Ketapang seluas 41,02 hektare.
Sementara itu, Kota Besi menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 99 titik. Kemudian Antang Kalang sebanyak 87 titik, dan Telaga Antang sebanyak 77 titik.
Secara keseluruhan, wilayah tengah Kotim menjadi daerah yang paling banyak dilanda karhutla. Dari total 192 hektare lahan yang terbakar, sekitar 110 hektare atau 57 persen berada di kawasan tersebut.
Data BPBD juga menunjukkan ancaman karhutla tahun ini lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pada periode yang sama tahun 2025 tercatat 453 hotspot, sedangkan tahun ini meningkat menjadi 559 hotspot.
Bahkan, 334 hotspot muncul hanya sepanjang Juli, menandakan puncak musim kemarau mulai berdampak terhadap meningkatnya potensi kebakaran.
Multazam mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia juga meminta warga segera melapor apabila menemukan titik api agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas.
"Peran masyarakat sangat penting. Semakin cepat titik api dilaporkan, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan," pungkasnya.(ang)
Editor : Slamet Harmoko