SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mewaspadai potensi peningkatan kasus diare di wilayah selatan selama musim kemarau. Berkurangnya ketersediaan air bersih serta intrusi air laut ke sungai dinilai meningkatkan risiko masyarakat menggunakan sumber air yang kualitasnya kurang baik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan wilayah selatan Kotim hampir setiap tahun menghadapi persoalan yang sama ketika musim kemarau tiba.
“Kalau wilayah selatan memang setiap kali musim kemarau pasti rawan. Stok air bersih di sana lebih banyak mengandalkan air hujan. Saat musim kemarau, cadangan air hujan menipis,” kata Nugroho, Kamis (23/7).
Baca Juga: Waspada! Kasus Diare di Kotim Meningkat, Empat Bayi Dilaporkan Meninggal
Selain berkurangnya cadangan air hujan, intrusi air laut juga memengaruhi kualitas air sungai yang digunakan masyarakat.
“Air laut naik sehingga air sungai bisa terkontaminasi air laut. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai,” terangnya.
Selain faktor lingkungan, Nugroho mengungkapkan masih ada masyarakat yang terlambat membawa penderita diare ke fasilitas kesehatan karena lebih dahulu mengandalkan pengobatan tradisional atau mengikuti kepercayaan yang berkembang di lingkungan sekitar.
“Sebagian masyarakat memang sudah sadar untuk segera berobat. Tetapi masih ada yang memilih pengobatan tradisional atau menunggu saran orang yang dituakan. Hal itu menyebabkan keterlambatan penanganan,” ucap Nugroho.
Baca Juga: Diare dan ISPA Mengintai Saat Kemarau, Dinkes Kotim Ajak Masyarakat Terapkan PHBS
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus, Dinkes telah menginstruksikan seluruh puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan. Persediaan obat-obatan, tenaga kesehatan, serta logistik pendukung juga telah disiapkan.
“Kami sudah menyurati seluruh puskesmas, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan agar meningkatkan kesiapsiagaan. Obat-obatan, tenaga kesehatan, dan logistik lainnya juga sudah kami siapkan untuk didistribusikan sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Dinkes juga mengidentifikasi Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Cempaga, dan Cempaga Hulu sebagai wilayah yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kasus diare.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan makanan dan minuman, menggunakan air bersih yang layak konsumsi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala diare agar terhindar dari komplikasi akibat dehidrasi. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko