Karhutla di Desa Eka Bahurui Kabupaten Kotim Sulit Dipadamkan. Terjadi Sejak 3 Juli 2026

Fahry Ilhami Samosir • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 21:31 WIB
Pengecekan sarana dan prasarana di Mapolda Kalteng untuk penanganan karhutla, dalam apel gabungan pada Selasa (21/7).(dok.dodi/radarsampit)
Pengecekan sarana dan prasarana di Mapolda Kalteng untuk penanganan karhutla, dalam apel gabungan pada Selasa (21/7).(dok.dodi/radarsampit)

SAMPIT-radarsampit.jawapos.com-Salah satu Karhutla terparah terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), salah satunya di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang belum juga berhasil dipadamkan dalam 20 hari belakangan.

Menghadapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim kini mengubah strategi penanganan, dengan memprioritaskan penghentian laju rambatan api dibanding memadamkan seluruh area yang terbakar.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kebakaran di Desa Eka Bahurui mulai terdeteksi sejak 3 Juli 2026, dengan luasan sekitar 8 hektare dan hingga kini masih menjadi salah satu titik karhutla yang paling sulit dikendalikan.

"Sampai sekarang titik apinya masih aktif sehingga tetap menjadi fokus penanganan kami," ujarnya, Rabu (22/7).

Menurut Multazam, api yang membakar lahan gambut masih bergerak di bawah permukaan tanah sehingga terus memunculkan asap dan perlahan merambat ke kawasan belakang Desa Eka Bahurui menuju jalan poros, hingga mengarah ke Desa Bengkuang Makmur.

"Kami ingin memutus jalur rambatan apinya. Dengan cara itu, penyebaran kebakaran bisa ditekan dan tidak terus meluas," tukasnya.

BPBD pun mengajak masyarakat menyiapkan cadangan air secara mandiri melalui embung portabel berbahan terpal yang memanfaatkan air parit atau saluran di sekitar kebun.

"Kami berharap warga mulai menyiapkan tampungan air sederhana di lahan masing-masing. Kalau sewaktu-waktu muncul titik api, penanganan awal bisa segera dilakukan sebelum membesar," imbuh Multazam.

Di Desa Eka Bahurui, BPBD Kotim juga memberikan perhatian terhadap kawasan Kuda Marlih yang dikenal sebagai salah satu titik langganan karhutla pada musim kemarau beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Sudah 17 Hari Berlalu, Karhutla di Eka Bahurui Belum Mampu Dipadamkan, BPBD Fokus Putus Perambatan Api

Hasil pemantauan lapangan menunjukkan tinggi muka air di parit sekitar lokasi hanya berkisar 35 hingga 40 sentimeter dan dalam kondisi tidak mengalir. Kondisi tersebut menyulitkan petugas saat mengoperasikan pompa air untuk pemadaman.

Multazam mengungkapkan, pihaknya juga melakukan pemantauan dari udara menggunakan pesawat nirawak atau drone. Dari hasil pengecekan itu, kepulan asap masih terlihat jelas, menandakan bara api di bawah permukaan gambut belum padam.

Demi mencapai titik api, petugas bahkan harus menyambung sekitar 26 gulung selang atau sepanjang kurang lebih 750 meter.

"Personel maupun peralatan sebenarnya sudah siap. Persoalan terbesar kami adalah ketersediaan air di lokasi, sehingga proses pemadaman di lapangan menjadi jauh lebih sulit," ungkapnya.

Meski demikian, menurut Multazam, operasi water bombing masih memberikan manfaat untuk menekan intensitas kebakaran. Namun penggunaannya harus disesuaikan karena dukungan helikopter juga dibutuhkan untuk penanganan karhutla di sejumlah kabupaten lain di Kalteng.(sir/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
Desa Eka Bahurui 20 hari karhutla Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Multazam