Cegah Kebun Terbakar, Petani Sawit Pilih Bermalam

Rado. • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 21:08 WIB
Upaya pemadaman lahan yang terbakar di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) oleh petugas gabungan. Selain menyasar lahan kosong, kebakaran lahan juga mengancam perkebunan sawit milik petani lokal. (istimewa/BPBD Palangka Raya)
Upaya pemadaman lahan yang terbakar di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) oleh petugas gabungan. Selain menyasar lahan kosong, kebakaran lahan juga mengancam perkebunan sawit milik petani lokal. (istimewa/BPBD Palangka Raya)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Ancaman karhutla yang terus meningkat di Kabupaten Kotim membuat para petani yang memiliki kebun sawit diliputi kecemasan. Demi menjaga dari ancaman api, ada yang bahkan memilih bermalam di lokasi perkebunan.

Salah satunya Pahmi, petani sawit di Kecamatan Kota Besi. Selama lebih dari sepekan terakhir, ia mengaku menghabiskan malam di kebunnya untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu api muncul atau merembet ke lahan miliknya.

"Sudah lebih dari satu minggu saya bermalam di kebun. Takut kalau ada api yang tiba-tiba masuk ke lahan karena sudah ada titik api disekitar sini," ujarnya.

Menurut Pahmi, kondisi semakin mengkhawatirkan karena lahan gambut di sekitar kebunnya mulai mengering. Air di sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari sekaligus cadangan untuk memadamkan api juga mulai menyusut."Lahan gambut sudah mulai kering, air di sumur juga mulai berkurang. Kalau sampai ada kebakaran tentu akan lebih sulit dipadamkan," ungkapnya kepada Radar Sampit.

Baca Juga: Petani di Desa Rubung Buyung Protes Banjir Kiriman Genangi Kebun Sawit

Kebun sawit tersebut merupakan satu-satunya sumber penghidupan keluarganya."Kalau sampai terbakar, habislah tempat kami bergantung hidup," cetusnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Matias, warga Kecamatan Cempaga. Ia mengaku tidak menyangka musim kemarau tahun ini begitu cepat menguras cadangan air di sekitar kebunnya."Kemarau kali ini cepat sekali mengeringkan stok air. Kanal yang kami bangun secara manual mulai surut. Parit yang saya buat dan sumur cadangan air mulai mengering,” ungkapnya.

Menurut Matias, kondisi tersebut membuat warga semakin waspada karena apabila kebakaran terjadi, sumber air untuk melakukan pemadaman awal sangat terbatas.

Dirinya berharap, pemerintah bersama seluruh pihak terkait terus meningkatkan patroli dan upaya pencegahan di wilayah rawan karhutla agar api tidak sampai merembet ke kebun-kebun produktif milik masyarakat.(ang/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
petani sawit merembet Bermalam kebun sawit karhutla