SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum berhasil dipadamkan meski telah berlangsung selama 17 hari.
Hingga Senin (20/7/2026), kepulan asap masih terlihat membumbung dari kawasan tersebut, sementara upaya pemadaman melalui helikopter water bombing terus dilakukan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan titik api di Desa Eka Bahurui mulai terpantau sejak 3 Juli 2026 dan hingga kini masih menjadi salah satu lokasi karhutla yang paling sulit ditangani.
“Kalau dihitung sejak 3 Juli sampai hari ini, sudah sekitar 17 hari. Api masih aktif dan menjadi perhatian kami,” ujarnya, Senin (20/7).
Menurut Multazam, meski penyiraman dari udara telah dilakukan beberapa kali, api yang membakar lapisan gambut masih bergerak di bawah permukaan tanah. Akibatnya, kebakaran terus meluas ke arah belakang Desa Eka Bahurui menuju Jalan Poros hingga kawasan yang tembus ke Desa Pembuang Makmur.
Untuk mengantisipasi perluasan kebakaran, BPBD bersama pemerintah desa dan kelompok masyarakat peduli api menggelar pertemuan guna memperkuat langkah mitigasi di tingkat masyarakat. Salah satu upaya yang didorong ialah menyiapkan embung portabel berbahan terpal sebagai cadangan air di kebun milik warga.
“Kami berharap masyarakat bisa menyiapkan sumber air sederhana di kebunnya masing-masing. Air dari parit atau saluran dapat ditampung ke embung portabel sehingga apabila terjadi kebakaran, penanganan awal bisa dilakukan secara mandiri,” tambahnya.
Selain Eka Bahurui, BPBD juga memberi perhatian khusus pada kawasan Kuda Marlih yang dikenal sebagai salah satu titik rawan karhutla sejak 2015 hingga 2019.
Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan tinggi muka air di parit sekitar lokasi hanya berkisar 35 hingga 40 sentimeter dan tidak mengalir, sehingga menyulitkan proses pemadaman menggunakan pompa portabel.
Multazam mengaku telah melakukan pengecekan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan masih menemukan kepulan asap tebal dari udara.
“Tadi pagi saya melakukan ground check menggunakan pesawat nirawak. Dari udara terlihat kepulan asap cukup tebal. Itu menandakan api masih aktif di bawah tanah dan harus segera dipotong agar tidak meluas,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, strategi yang diterapkan saat ini bukan lagi memadamkan seluruh area yang terbakar, melainkan memutus jalur perambatan api agar kebakaran tidak terus meluas. Strategi serupa sebelumnya diterapkan saat menangani karhutla di Kelurahan Baamang Hulu dan dinilai efektif mengurangi kepulan asap.
“Kami tidak bisa memadamkan seluruh area yang terbakar. Yang kami lakukan adalah memutus perambatan api supaya tidak meluas. Strategi itu sekarang juga kami terapkan di Kuda Marlih,” jelasnya.
Menurut Multazam, tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Eka Bahurui adalah minimnya ketersediaan sumber air. Saat pemadaman darat dilakukan, petugas harus membentangkan hingga 26 gulung selang atau sekitar 750 meter untuk menjangkau titik api yang berada di tengah kawasan berhutan.
“Personel siap, peralatan juga siap. Namun, kalau di lapangan air tidak tersedia, tentu kami kesulitan melakukan pemadaman. Itu kendala utama di Eka Bahurui,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, BPBD menilai operasi water bombing masih efektif membantu menekan intensitas kebakaran. Namun, penggunaan helikopter harus disesuaikan dengan kebutuhan penanganan karhutla di daerah lain di Kalimantan Tengah, seperti Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas.
Berdasarkan data BPBD Kotim, luas lahan yang terbakar di kawasan Desa Eka Bahurui dan sekitarnya diperkirakan telah mencapai lebih dari delapan hektare. Hingga kini petugas gabungan masih berupaya mencegah api merambat ke kebun milik warga maupun kawasan hutan yang lebih luas. (ktr-2)
Editor : Slamet Harmoko