SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Kabut asap mulai menyelimuti sebagian Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu (19/7) pagi. Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi H Asan Sampit pada pukul 07.00 WIB, cuaca di Sampit tercatat berkabut asap dengan jarak pandang 800 meter.
Suhu udara berada di angka 21,9 derajat celsius, kelembapan mencapai 98 persen, sementara angin terpantau tenang atau calm dengan kecepatan 0 kilometer per jam.
Munculnya kabut asap ini terjadi di tengah meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotim. Data terbaru Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menunjukkan terdapat tujuh titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi hingga Minggu pagi (19/7).
"Kabut asap cukup pekat. Tadinya saya kira cuma di bantaran Sungai Mentaya, tapi lebih ke darat seperti kawasan Terowongan Nur Mentaya jauh lebih tebal," ungkap Usna, salah seorang warga.
Bersamaan itu, bertambahnya kebakaran lahan di Kabupaten Kotim semakin mengkhawatirkan. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat hingga, Sabtu 18 Juli 2026, jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi telah mencapai 415 lokasi atau hampir menyamai total sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebanyak 453 titik.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam mengungkapkan, lonjakan hotspot tahun ini didominasi selama Juli. Dalam kurun waktu 18 hari, satelit mendeteksi 190 hotspot, naik lebih dari empat kali lipat dibandingkan Juni yang hanya mencatat 43 titik.
Baca Juga: Karhutla Lahan Permukiman Wengga Metropolitan, Damkar Susuri 200 Meter untuk Capai Titik Api
"Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada Juli. Karena itu kami terus meningkatkan patroli, pemadaman, dan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla," ujarnya, Minggu (19/7).
Berdasarkan data BPBD, hingga 18 Juli telah terjadi 84 kejadian karhutla di Kotim dengan total luas lahan terbakar mencapai 171,39330 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 76 kejadian berhasil ditangani tim gabungan, sedangkan sisanya masih dalam pemantauan agar api tidak meluas.
Wilayah tengah menjadi daerah dengan dampak terparah. Luas lahan yang terbakar mencapai 97,60630 hektare atau sekitar 56,95 persen dari total luasan kebakaran di Kotim. Kecamatan Baamang mencatat 29 kejadian dengan luas lahan terbakar 43,69 hektare, sedangkan Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 92 titik.
Di wilayah selatan, luas lahan terbakar mencapai 72,337 hektare. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, yakni 32 kasus. Sementara di Kecamatan Pulau Hanaut, meski hanya mencatat satu hotspot, luas lahan yang terbakar mencapai 20,75 hektare, dengan karakteristik lahan gambut.
Sementara itu, di wilayah utara Kotim relatif lebih terkendali dengan luas lahan terbakar 1,45 hektare. Meski Kecamatan Antang Kalang mencatat 76 hotspot, hingga kini belum ditemukan kejadian kebakaran besar yang terverifikasi.
Terpisah, kebakaran lahan juga berpotensi meluas di ibu kota Kalteng, Palangka Raya. Manajer Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Palangka Raya, Balap, mengungkapkan, sejak 1 Juni 2026 hingga saat ini telah terjadi 31 kejadian karhutla. Wilayah terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya dengan 25 kejadian, sedangkan kawasan yang sangat rawan meliputi Kecamatan Jekan Raya dan Sabangau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi juga mengatakan, pihaknya terus meningkatkan upaya mitigasi melalui patroli rutin, pemantauan kawasan rawan, serta koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan kelurahan.
Ia membeberkan, sejauh ini di Kecamatan Jekan Raya ada 85 kejadian dengan luasan terbakar 35 hektar lebih. Kemudian di Kecamatan Pahandut ada 15 kejadian dengan 1.93 hektar lebih terbakar, Sebagau 19 kejadian 5,51 hektar lebih, Bukit Batu ada 6 kejadian dengan luas 8,51 hektar dan Rakumpit ada 2 kejadian dengan luas 3,97 hektar.
Heri menambahkan, BPBD terus memfokuskan pemantauan di tiga kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, yakni Jekan Raya, Pahandut, dan Sabangau.
Sementara di Kabupaten Seruyan, Pemkab setempat telah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau, Minggu (19/7).
Di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), karhutla di tiga lokasi terjadi dalam sehari, Sabtu (18/7). BPBD setempat harus menangani tiga titik kebakaran yang terjadi di lokasi berbeda, sehingga personel terpaksa dibagi untuk mengendalikan api.
Tiga lokasi kebakaran tersebut berada di kawasan Sungai Baru, Desa Natai Baru, Kelurahan Baru Kilometer 2 Jalan Ahmad Yani, serta Desa Kubu, Kecamatan Kumai.
Kebakaran di Kilometer 2 Jalan Ahmad Yani berhasil dipadamkan, sementara api di Desa Kubu masih ditangani tim gabungan BPBD, Manggala Agni, dan unsur terkait. Adapun kebakaran di Sungai Baru menjadi tantangan tersendiri karena lokasi sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Andan Santana, mengatakan kondisi cuaca yang panas disertai angin kencang mempercepat penyebaran api.
"Dugaan sementara kebakaran dipicu aktivitas warga yang membakar sampah. Karena cuaca panas dan angin cukup kencang, api dengan cepat merambat ke lahan kering hingga menyebabkan kebakaran," ungkapnya.
Hasil pendataan pihaknya, menunjukkan luas lahan yang terbakar tersebut mencapai sekitar 0,25 hektare.
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, BPBD Kobar mencatat 63 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 113,51 hektare.
Karhutla di Kalimantan juga disoroti Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T. Danaparamita. Ia pun meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan, menyusul munculnya ribuan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera.
Sonny mengaku langsung berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Dirjen Gakkum) Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto, setelah menerima laporan mengenai perkembangan karhutla.
"Begitu melihat pemberitaan, saya langsung berkomunikasi dengan Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan. Saya meminta agar situasi ini segera diberikan atensi penuh," pungkasnya, Jumat (17/7).(ang/oes/tyo/sla/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama