Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Bahaya! Kotim Peringkat Kedua Luasan Karhutla di Kalimantan Tengah

M. Akbar • Jumat, 17 Juli 2026 | 20:49 WIB
Petugas Tim pengendalian Karhutla saat berjibaku memadamkan areal yang terbakar di Jalan Bumi Raya, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (26/6/2026). (TRC BPBD Kotim) 
Petugas Tim pengendalian Karhutla saat berjibaku memadamkan areal yang terbakar di Jalan Bumi Raya, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (26/6/2026). (TRC BPBD Kotim) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi salah satu daerah dengan tingkat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di Kalimantan Tengah. B

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kotim menempati peringkat kedua dari sisi luas lahan terbakar, sementara dari sisi frekuensi kejadian menjadi yang tertinggi di provinsi tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung selama empat hingga lima bulan ke depan.

“Kalau dari sisi luasan kebakaran, kita berada di urutan kedua setelah Pulang Pisau. Tetapi kalau frekuensi kejadian, Kotim yang paling banyak,” ujarnya, belum lama ini.

Ia menjelaskan, hingga pertengahan Juli luas lahan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 145 hektare. Sementara itu, secara kumulatif sejak Januari telah terdeteksi lebih dari 300 titik panas (hotspot). Khusus sepanjang Juli, jumlah hotspot telah mencapai sekitar 115 titik atau menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.

Menurut Multazam, selain ancaman karhutla, pemerintah daerah juga mulai menghadapi dampak kekeringan yang memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Saat ini, empat desa telah mengajukan permohonan bantuan air bersih secara berkala, yakni Desa Kuin Permai, Lempuyang, Regei Lestari, dan Jaya Karet.

“Permintaan mereka bukan hanya sekali pengiriman, tetapi secara berkala. Dalam satu kali distribusi, kebutuhan air mencapai sekitar 15.000 hingga 20.000 liter sehingga diperlukan sekitar empat sampai lima mobil tangki,” katanya.

Multazam mengungkapkan, ancaman kekeringan berpotensi meluas apabila musim kemarau terus berlangsung. Wilayah Pulau Hanaut dan Seranau menjadi daerah yang paling diwaspadai karena rentan mengalami intrusi air laut yang menyebabkan sumber air tawar tidak lagi layak dikonsumsi.

“Ancaman kekeringan masih berpotensi bertambah. Kita bahkan belum masuk ke wilayah Pulau Hanaut dan Seranau yang memiliki kerentanan lebih tinggi karena saat musim kemarau sering terjadi intrusi air laut sehingga air menjadi tidak layak dikonsumsi,” jelasnya.

Ia menambahkan, apabila distribusi air bersih harus dilakukan ke wilayah tersebut, penyaluran akan menggunakan jalur sungai sebagaimana yang pernah dilakukan saat musim kemarau pada 2015 dan 2019.

“Distribusi ke sana harus menggunakan transportasi sungai. Kami pernah melakukannya pada 2015 dan 2019 dengan menggunakan perahu besar yang mengangkut profil tank berisi air bersih,” ungkapnya.

Meski angin tenggara bertiup cukup kencang sehingga menyebabkan awan hujan sulit terbentuk dan berpotensi memperpanjang kondisi kering, Multazam berharap kebakaran hutan dan lahan tidak terus meluas meski hingga kini hujan belum turun.

Ia memastikan BPBD terus meningkatkan kesiapsiagaan dan pemantauan di wilayah rawan agar setiap kejadian karhutla dapat ditangani secepat mungkin.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
luas karhutla kotim karhutla kotim kalimantan tengah