Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Karhutla di Kotim Meningkat, BPBD Minta Tambahan Helikopter Water Bombing

M. Akbar • Jumat, 17 Juli 2026 | 20:46 WIB
Pantauan udara karhutla di Kabupaten Kotim.  (Dok : BPBD Kotim)
Pantauan udara karhutla di Kabupaten Kotim. (Dok : BPBD Kotim)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengusulkan penambahan satu unit helikopter water bombing yang disiagakan di Bandara H Asan Sampit.

Permintaan itu menyusul meningkatnya frekuensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau, sementara armada pemadaman udara di Kalimantan Tengah masih terbatas.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan hingga saat ini Kalimantan Tengah hanya memiliki dua unit helikopter water bombing.

Namun, keduanya masih diprioritaskan untuk penanganan karhutla di Kabupaten Pulang Pisau yang mengalami kebakaran cukup parah.

“Untuk saat ini, dua helikopter water bombing yang tersedia di Kalimantan Tengah masih diprioritaskan untuk penanganan di Pulang Pisau. Di sana kebakarannya cukup besar dan ketersediaan air di permukaan juga sangat terbatas,” ujarnya, Jumat (17/7).

Menurut Multazam, Kotim juga membutuhkan dukungan pemadaman dari udara karena jumlah kejadian karhutla terus meningkat. Berdasarkan data BPBD, sejak Januari hingga awal Juli 2026 telah terdeteksi sekitar 300 titik panas (hotspot) di Kotim. Khusus pada Juni, jumlah hotspot mencapai sekitar 115 titik atau menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.

Selain tingginya jumlah titik panas, luas lahan yang terbakar di Kotim juga terus bertambah. Saat ini, Kotim menempati urutan kedua luas lahan terbakar terbesar di Kalimantan Tengah setelah Pulang Pisau. Bahkan jika dilihat dari frekuensi kejadian, jumlah karhutla di Kotim lebih banyak dibandingkan daerah tersebut.

“Kami sudah mengajukan permohonan. Mudah-mudahan ada tambahan satu unit helikopter water bombing lagi yang bisa siaga di Bandara H Asan Sampit untuk mendukung penanganan karhutla di Kotim,” tambahnya.

Multazam menjelaskan, pengerahan helikopter water bombing dilakukan berdasarkan laporan petugas di lapangan dan hasil patroli udara. Sistem tersebut diterapkan agar penanganan difokuskan pada lokasi dengan tingkat ancaman tertinggi.

“Operasional helikopter water bombing selain berdasarkan informasi dari tim darat, juga mengacu pada hasil patroli udara,” jelasnya.

Ia menerangkan, patroli udara dilaksanakan dua kali sehari. Pada pagi hari, pesawat memantau wilayah utara Kalimantan Tengah, sedangkan siang harinya patroli dilanjutkan ke wilayah barat, termasuk Kabupaten Kotim.

Hasil pemantauan kemudian dianalisis oleh tim water bombing untuk menentukan lokasi yang menjadi prioritas pemadaman.

BPBD berharap usulan penambahan helikopter tersebut dapat segera direalisasikan. Kehadiran satu unit helikopter yang siaga di Sampit diyakini akan mempercepat respons pemadaman, terutama pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat, sehingga penyebaran api dapat ditekan lebih cepat.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
helikopter water bombing karhutla di kotim water bombing bpbd kotim