PALANGKA RAYA-Kebakaran lahan yang mulai marak di Kalimantan Tengah (Kalteng) di musim kemarau ini, dikhawatirkan juga berdampak pada kualitas udara, yang dihirup masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalteng mengingatkan, kondisi tersebut dapat memburuk apabila kebakaran hutan dan lahan semakin meluas, dan tak bisa dihentikan.
Berdasarkan hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) di sembilan kabupaten/kota hingga Jumat (17/7) pukul 14.00 WIB, belum ada wilayah yang masuk kategori udara tidak sehat. Namun, tren kualitas udara dalam beberapa hari terakhir mulai mengalami penurunan.
Dijelaskan Kepala DLH Provinsi Kalteng, Joni Harta, hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan kualias udara di sebagian besar wilayah masih berada pada kategori baik dan sedang.
"Saat ini kategori kualitas udara yang terpantau dari ISPU masih dalam kondisi baik dan sedang berdasarkan hasil pembaruan dari kabupaten dan kota yang memiliki alat AQMS aktif," ujarnya kepada Radar Sampit, Jumat (17/7).
Joni memaparkan, data DLH mencatat Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memiliki kualitas udara terbaik dengan nilai ISPU 18 dari parameter kritis nitrogen dioksida (NO₂) atau kategori baik. Sementara Kabupaten Gunung Mas mencatat nilai 54 dari parameter PM2.5 atau kategori sedang.
Adapun Kabupaten Barito Selatan dan Murung Raya masing-masing mencatat nilai ISPU 93 dengan kategori sedang, sedangkan Kabupaten Katingan berada pada nilai 86 yang masih tergolong baik.
Di sisi lain, pemantauan kualitas udara di Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Kota Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau belum dapat diperbarui, karena alat AQMS mengalami kerusakan dan masih menunggu pemeliharaan dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Sementara itu, Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, Lamandau, Seruyan, dan Sukamara hingga kini belum memiliki alat pemantau kualitas udara secara real time.
"Belum terdapat kabupaten atau kota yang memiliki kualitas udara tidak baik. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan apabila terjadi karhutla yang lebih besar atau jumlah hotspot meningkat, kualitas udara bisa menjadi tidak sehat," tegas Joni.
Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi penyebab utama penurunan kualitas udara di Kalteng. Selain itu, suhu tinggi pada musim kemarau dan aktivitas manusia juga ikut memengaruhi kondisi udara.
Joni juga menyebut, hasil pemantauan beberapa hari terakhir menunjukkan kualitas udara mulai bergeser dari kategori baik menjadi sedang.
Sebagai langkah antisipasi, DLH Provinsi Kalteng terus melakukan sosialisasi pencegahan karhutla melalui pemasangan spanduk imbauan di sejumlah kabupaten dan organisasi perangkat daerah (OPD).
DLH juga mengimbau masyarakat mulai menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara terus menurun. Masyarakat pun diminta menghentikan aktivitas pembakaran di lingkungan rumah, memperbanyak konsumsi air putih, serta menyiapkan obat-obatan bagi penderita penyakit penyerta seperti asma, PPOK, maupun penyakit jantung.
"Apabila kualitas udara terus memburuk, masyarakat diharapkan segera melakukan langkah-langkah mitigasi agar dampaknya terhadap kesehatan dapat diminimalkan," imbuh Joni.
Ia menambahkan, Informasi terbaru mengenai kualitas udara dapat diakses masyarakat melalui laman resmi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup.
“Masyarakat dapat mengakses informasi terbaru mengenai kualitas udara di Kalimantan Tengah melalui situs resmi ISPU KLHK pada link : ttps://ispu.kemenlh.go.id,”pungkas Joni Harta.
Sementara itu terpisah, Manajer Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Balap, mengatakan hingga saat ini kualitas udara di Kota Palangka Raya masih berada pada kategori sedang, dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) berkisar 72–92.
Konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat sekitar 23 mikrogram per meter kubik, sehingga kondisi udara masih relatif aman, namun tetap harus diwaspadai.
"Sejak 1 Juni 2026 hingga saat ini telah terjadi 31 kejadian karhutla. Wilayah terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya dengan 25 kejadian, sedangkan kawasan yang sangat rawan meliputi Kecamatan Jekan Raya dan Sabangau," paparnya,Jumat (17/7).
BPBD setempat juga mengimbau warga berperan aktif mencegah terjadinya karhutla. Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di area terbuka, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak meninggalkan api saat beraktivitas di kawasan hutan maupun lahan gambut. (daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama