Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

BMKG Ubah Prediksi Puncak Kemarau Kotim, September Diperkirakan Jadi Periode Paling Kering

Usay Nor Rahmad • Jumat, 17 Juli 2026 | 20:05 WIB
Langit cerah di atas Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dalam beberapa hari terakhir suhu udara saat siang cukup panas hingga 33 derajat dan mendadak mendung menjelang malam hari. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 
Langit cerah di atas Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, dalam beberapa hari terakhir suhu udara saat siang cukup panas hingga 33 derajat dan mendadak mendung menjelang malam hari. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit) 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merevisi prakiraan puncak musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Jika sebelumnya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, kini puncak musim kemarau diprediksi bergeser ke September.

Perubahan tersebut merupakan hasil evaluasi terbaru BMKG terhadap perkembangan cuaca dan iklim di wilayah Kotim selama beberapa bulan terakhir. Pergeseran ini sekaligus menunjukkan musim kemarau tahun ini datang lebih lambat dari prakiraan awal.

Kepala Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan prakiraan sebelumnya telah diperbarui setelah BMKG melakukan peninjauan ulang terhadap kondisi atmosfer dan curah hujan.

"Pada rilis pertama kami, puncak musim kemarau diprakirakan Agustus. Namun setelah kami review kembali, untuk Kotim puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September. Jadi ada pergeseran," katanya, Jumat (17/7/2026).

Menurut Mulyono, bergesernya puncak musim kemarau tidak lepas dari mundurnya awal musim kemarau di Kotim. Semula, musim kemarau diperkirakan dimulai pada awal Juni, tetapi berdasarkan hasil evaluasi terbaru bergeser menjadi Juni dasarian II atau sekitar pertengahan Juni.

Ia menjelaskan, pada awal hingga akhir Juni curah hujan masih relatif tinggi. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang berlangsung di Kalimantan Tengah.

"Awalnya diprakirakan awal musim kemarau itu awal Juni, tetapi bergeser ke Juni dasarian II. Pada awal Juni masih ada kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca sehingga sampai akhir Juni curah hujan masih lumayan banyak," ujarnya.

Perubahan awal musim itu turut memengaruhi pergeseran puncak kemarau. BMKG pun memperbarui prakiraan agar sesuai dengan kondisi cuaca yang berkembang di lapangan.

Meski mundur, BMKG memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini tetap berlangsung cukup panjang. Karena itu, masyarakat diminta mulai bersiap menghadapi periode paling kering yang diperkirakan terjadi pada September.

Mulyono menegaskan pembaruan prakiraan ini penting sebagai acuan bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat dalam menyusun langkah antisipasi, terutama pada sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan mitigasi kebakaran hutan serta lahan.

"Pembaruan prakiraan ini kami lakukan agar masyarakat dan pemerintah memiliki informasi yang lebih akurat untuk menghadapi musim kemarau tahun ini," pungkasnya. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
Kekeringan di Kotim puncak kemarau kotim BMKG cuaca cerah