SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali mengalami peningkatan. Berdasarkan pembaruan data BMKG yang diakses pada Minggu (12/7/2026) pukul 07.00 WIB, terdeteksi 12 titik panas dalam 24 jam terakhir yang tersebar di tiga kecamatan.
Kecamatan Kota Besi masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak. Sebanyak lima titik panas terpantau berada di Desa Soren, Desa Camba, hingga Kelurahan Kota Besi Hulu. Dua titik terakhir bahkan merupakan temuan terbaru yang tercatat pada 12 Juli 2026 pukul 01.35 WIB.
Sementara itu, Kecamatan Parenggean mencatat lima titik panas yang seluruhnya berada di Desa Tehang. Salah satu titik memiliki tingkat kepercayaan (confidence level) 9, sedangkan empat titik lainnya berada pada level 8, yang menunjukkan potensi kuat sebagai indikasi kebakaran di lapangan.
Adapun dua titik panas lainnya terdeteksi di Desa Tumbang Boloi, Kecamatan Telaga Antang, dengan tingkat kepercayaan masing-masing 8.
Seluruh titik panas tersebut terpantau melalui satelit NOAA-20 dan AQUA. Sebagian besar memiliki radius kemungkinan sekitar 321 meter, sementara dua hotspot terbaru di Kecamatan Kota Besi memiliki radius kemungkinan mencapai 1.125 meter.
Bertambahnya jumlah hotspot menjadi sinyal bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotim masih belum mereda.
Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Kota Besi, Parenggean, dan sejumlah kecamatan lain terus menjadi penyumbang titik panas yang terdeteksi satelit.
Kondisi tersebut juga sejalan dengan masih berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Kotim. Curah hujan yang minim membuat lahan, terutama kawasan gambut, semakin mudah terbakar apabila terjadi pemicu api.
Pemerintah daerah bersama BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, dan instansi terkait terus melakukan patroli terpadu serta penanganan cepat di lokasi yang terindikasi terjadi kebakaran. Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas.
BMKG mengingatkan masyarakat agar terus memantau perkembangan informasi cuaca dan hotspot, serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran hutan maupun lahan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (oes)
Editor : Slamet Harmoko