Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Jangan Sampai Bencana Kabut Asap Terulang Lagi !

Rado. • Jumat, 10 Juli 2026 | 21:27 WIB
Ketika kabut asap melanda Kota Sampit di malam hari pada tahun 2023 lalu. (dok.radarsampit)
Ketika kabut asap melanda Kota Sampit di malam hari pada tahun 2023 lalu. (dok.radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi perhatian kalangan legislatif. Wakil Ketua DPRD Kotim Juliansyah, mengingatkan pemerintah setempat agar memperkuat langkah pencegahan, sehingga bencana kabut asap tidak kembali mengganggu dunia pendidikan maupun aktivitas perekonomian masyarakat.

Menurut Juliansyah, pengalaman karhutla pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga meluas ke berbagai sektor. Kabut asap dapat mengganggu proses belajar mengajar, aktivitas transportasi, pelayanan publik, hingga menurunkan produktivitas masyarakat.

"Jangan sampai kita kembali mengalami kondisi seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika aktivitas masyarakat terganggu akibat kabut asap. Pencegahan harus menjadi prioritas agar dampaknya tidak meluas ke sektor pendidikan dan ekonomi," ujarnya.

Juliansyah menilai, langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini mengingat musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Juli hingga Agustus. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko karhutla apabila tidak diiringi kesiapsiagaan seluruh pihak.

Dirinya juga meminta BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, relawan, hingga perusahaan perkebunan memperkuat koordinasi dalam upaya pencegahan dan penanganan titik api. Menurutnya, api harus dipadamkan sejak awal sebelum meluas dan menimbulkan kabut asap.

"Kita tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Yang paling penting adalah mencegah agar kebakaran tidak terjadi. Kalau bisa dicegah sejak awal, maka masyarakat tidak perlu menanggung dampaknya," katanya.

DPRD lanjut Juliansyah,  juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mengingat sebagian besar wilayah Kotim merupakan lahan gambut, api akan lebih sulit dipadamkan apabila sudah meluas.

Sementara itu, dari data infografis BPBD Kotawaringin Timur per 8 Juli 2026, tercatat sebanyak 61 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 138,8 hektare.Sebaran kebakaran didominasi wilayah selatan dan tengah Kotim.

Baca Juga: Karhutla mulai Memicu Trauma Warga dengan Bencana Kabut Asap

Wilayah selatan menjadi daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni 71,18 hektare atau sekitar 51,26 persen dari total lahan yang terbakar. Sementara wilayah tengah mencapai 66,23 hektare atau 47,69 persen. Adapun wilayah utara mencatatkan luasan terkecil, yakni 1,45hektare atau sekitar 1,04 persen.

Berdasarkan kecamatan, Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan intensitas karhutla tertinggi. Hingga 8 Juli tercatat 28 kejadian kebakaran, dengan 26 kejadian telah berhasil ditangani. Meski demikian, kebakaran telah menghanguskan sekitar 32,82hektare lahan dan memunculkan 13 titik hotspot.

Kecamatan Baamang berada di urutan kedua dengan 11 kejadian karhutla, dan seluruhnya bisa ditangani. Namun, luas lahan yang terbakar mencapai 17,82 hektare dengan 10 titik hotspot, sehingga tetap menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian serius.

Juliansyah menegaskan, DPRD akan terus mengawasi kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi musim kemarau. Termasuk memastikan ketersediaan personel, sarana, prasarana, serta dukungan anggaran penanganan karhutla agar setiap kejadian dapat ditangani secara cepat sebelum berkembang menjadi bencana kabut asap yang lebih luas.(ang/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#wakil ketua DPRD Kotim Juliansyah #perekonomian #kabut asap #pencegahan #karhutla