SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Munculnya sejumlah titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai membangkitkan kembali trauma warga terhadap bencana kabut asap yang pernah melumpuhkan aktivitas warga beberapa tahun lalu. Kekhawatiran itu tidak hanya soal kesehatan, tetapi juga ancaman krisis air bersih hingga hilangnya mata pencaharian.
Diungkapkan Dian Sastri, seorang ibu rumah tangga di Sampit, mengaku cemas setiap kali mendengar kabar kebakaran lahan. Sebagai ibu yang memiliki bayi, ia khawatir kabut asap kembali menyelimuti Kotim dan berdampak pada kesehatan anaknya.
"Kalau dengar ada kebakaran lahan, saya langsung kepikiran jangan sampai asap seperti dulu terulang lagi. Sekarang saya punya bayi, jadi lebih khawatir kalau udara memburuk," ujarnya.
Menurut Dian, pengalaman saat kabut asap melanda beberapa tahun silam masih membekas. Aktivitas masyarakat terganggu, sementara anak-anak dan kelompok rentan harus membatasi aktivitas di luar rumah akibat kualitas udara yang memburuk.
Kekhawatiran berbeda dirasakan Vina, warga Kecamatan Mentaya Hulu. Selain ancaman kabut asap, ia mengaku waswas terhadap kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih selama musim kemarau.
Selama ini keluarganya mengandalkan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, debit air sumur terus menyusut sehingga kebutuhan rumah tangga menjadi lebih sulit dipenuhi.
Baca Juga: Bandara H Asan Terancam Kabut Asap, Sekitar 2 Hektare Lahan Dekat Landasan Terbakar
"Biasanya kalau kemarau panjang, air sumur makin surut. Kalau hujan tidak turun, kami khawatir air bersih akan sulit didapat," ujar Vina.
Sementara itu, Asman, seorang petani di Kotim, mengaku trauma dengan peristiwa karhutla pada 2019 yang mengancam kebunnya. Ia tidak ingin kejadian serupa kembali terulang karena dapat menghilangkan sumber penghasilan keluarganya.
"Saya masih ingat tahun 2019, kebun kami hampir terbakar. Kalau sampai kejadian itu terulang lagi, tentu kami sebagai petani yang paling merasakan dampaknya karena mata pencaharian ada di kebun," tuturnya.
Asman berharap pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan karhutla, termasuk mengawasi titik-titik rawan kebakaran dan mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Seiring meningkatnya intensitas musim kemarau, warga berharap berbagai langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah mampu mencegah terulangnya bencana kabut asap. Bagi mereka, karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar lahan, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan, ketersediaan air bersih, pendidikan, hingga keberlangsungan ekonomi keluarga.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama