Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Peternak Ayam Petelur di Kotim ‘Teriak’. Keluhkan Rendahnya Harga Jual di Tengah Naiknya Biaya Pakan . Bakal Dibahas Bersama DPRD Kotim

Yuni Pratiwi Iskandar • Senin, 29 Juni 2026 | 21:54 WIB
Wabup Kotim Irawati dan tim gabungan Pemkab Kotim saat inspeksi di salah satu agen telur di Kota Sampit, Senin (29/6).(yuni/radarsampit)
Wabup Kotim Irawati dan tim gabungan Pemkab Kotim saat inspeksi di salah satu agen telur di Kota Sampit, Senin (29/6).(yuni/radarsampit)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Fluktuasi harga telur  di Indonesia yang dinilai rendah oleh para peternak ayam petelur, juga terasa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).Selama sekitar tiga bulan terakhir, mereka mengaku mengalami tekanan, dampak  turunnya harga jual telur di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

Diungkapkan Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim Arif Rahman Hakim, penurunan harga telah berlangsung selama dua hingga tiga bulan terakhir. Di sisi lain, harga pakan justru mengalami kenaikan cukup tinggi, dari sekitar Rp385 ribu menjadi Rp425 ribu per sak.

Saat ini terdapat sekitar 37 peternak ayam petelur lokal di Kotim dengan skala usaha yang beragam. Mulai dari peternak kecil yang memelihara sekitar 500 ekor ayam hingga peternak besar dengan populasi mencapai 38 ribu ekor. Arif sendiri mengelola sekitar 6.500 ekor ayam dengan produksi rrata-rata 6.000 butir telur per hari.

Meski demikian lanjut Arif, produksi peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 15 hingga 20 persen kebutuhan telur masyarakat Kotim. Sisanya masih dipasok dari luar daerah, terutama Pulau Jawa, sehingga harga telur di pasaran sangat dipengaruhi  pasokan dari daerah tersebut.

Baca Juga: Sidak Pasar, Wabup Kotim Ungkap Kejanggalan Harga Telur di Sampit

Ia juga membeberkan, selain persoalan harga, peternak juga dihadapkan pada tingginya biaya pemeliharaan, mulai dari vaksinasi rutin setiap enam minggu, kebutuhan vitamin, obat-obatan hingga faktor cuaca yasng memengaruhi k esehatan ayam dan produktivitas.

Arif mengungkapkan, sebelum harga jatuh, telur ukuran besar dijual sekitar Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per ikat berisi enam sap atau sekitar Rp55 ribu per sap. Kini harga di tingkat peternak hanya sekitar Rp255 ribu per ikat atau sekitar Rp42.500 per sap.

“Yang menjadi persoalan adalah penurunan harga di tingkat peternak tidak diikuti penurunan harga yang signifikan di tingkat konsumen.Kami sudah menjual dengan harga murah, tetapi masyarakat yang membeli di pasar tetap mendapatkan harga yang relatif tinggi. Harapan kami, harga telur bisa kembali normal, sehingga peternak tetap bisa bertahan menjalankan usahanya," ungkap Arif.

Pemkab Kotim Agendakan Dibahas di RDP

Merespon kondisi itu, tim Pemkab Kotim dipimpin  Wakil Bupati Kotim Irawati langsung peninjauan ke sejumlah distributor dan agen telur besar di Kota Sampit. Antara lain distributor SJS di Jalan D.I Panjaitan, distributor di Jalan Iskandar dan di Jalan Pelita Timur, serta agen di kawasan Sukabumi dan Jalan Hasan Mansyur.

 

Irawati mengungkapkan, sidak ini merupakan tindak lanjut atas aspirasi yang disampaikan oleh Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal Kabupaten Kotim yang mengeluhukan tren penurunan harga telur yang kian tak terkendali.

“Harga telur saat ini sedang mengalami tren penurunan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun, kita tetap harus mengacu pada regulasi yang ada. Badan Pangan Nasional (Bapanas) sendiri telah menetpakan Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen untuk wilayah Jawa berkisar antara Rp26.500 dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen sebesar Rp30.000 per kilogram,” paparnya.

Di Kotim lanjut Irawati, pihaknya akan segera menyesuaikan nilainya dengan merujuk pada kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.

Dirinya menyontohkan, apabila distributor melepas harga telur ke tingkat agen Rp22.000 per kilogram,  imbasnya, para agen menjual kembali dengan harga berkisar Rp24.000 per kilogram, padahal harga HAP sendiri  sudah di atas itu.

Kondisi ini dinilai sangat memukul para peternak lokal. Pasalnya, di saat harga jual telur merosot tajam, biaya operasional mereka tetap tinggi akibat mahalnya harga pakan ayam petelur. Jika kondisi ini dibiarkan, Pemkab Kotim mengkhawatirkan para peternak lokal akan gulung tikar.

"Jika distributor menjual murah ke agen kasian peternak ayam petelur yang ada. Karena mereka otomatis akan mengikuti harga murah, sedangkan pakan saat ini mahal. Jika peternak lokal kita yang jumlahnya mulai banyak ini sampai gulung tikar karena tidak mampu menutup biaya pakan, dampaknya akan sangat berat pada suplai jangka panjang,” beber Irawati.

Dengan demikian lanjutnya, pemenuhan telur di Kotim akan menjadi sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ketika pasokan luar terhambat, harga akan melonjak tinggi dan telur justru berisiko menjadi penyumbang inflasi baru. “Kita ingin sebaliknya, melimpahnya peternak lokal harus bisa membawa telur menjadi penyumbang deflasi di Kotim," tegas Irawati.

Diakuinya, penurunan harga yang terjadi di tingkat distributor ini ternyata tidak memberikan dampak signifikan di tingkat konsumen atau masyarakat umum. Berdasarkan pantauannya, harga eceran di pasar tradisional relatif tetap stabil tinggi dan belum mengalami penurunan serupa. Satu sap atau per piring isi 30 butir berkisar antara Rp 55-60 ribu, untuk ukuran sedang.

Guna merumuskan solusi terkaita Pemkab Kotim dipastikan akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dalam waktu dekat. Irawati mengaku telah berkoordinasi dengan Ketua DPRD Kotim agar Komisi II segera mengagendakan pemanggilan terhadap seluruh distributor, agen, serta perwakilan Aliansi Peternak Ayam Petelur Lokal.

"Kami sudah memberikan masukan kepada pemilik distributor agar mengikuti harga acuan yang nantinya resmi kita keluarkan. Melalui RDP nanti, kita duduk bersama untuk menentukan standar HAP yang ideal untuk wilayah Kotim agar tidak ada pihak yang di dirugikan. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Satgas Pangan dari Polres Kotim untuk melakukan pengawasan ketat di rantai distribusi," pungkas Irawati.

Ia menambahkan, kapasitas produksi peternak lokal se-Kalteng saat ini baru berkisar 500.000 ekor ayam, masih jauh di bawah kapasitas satu distributor luar yang bisa mencapai 2.000.000 ekor.

Dengan demikian, keberadaan peternak lokal dinilai sangat penting sebagai penyeimbang pasar.

Harga Telur dari Jawa Juga Turun, Daya Beli masih Rendah

Sementara itu, Habib, seorang Supervisor distributor Telur di Jalan Panjaitan mengungkapkan bahwa harga telur asal Jawa yang didatangkannya kini dijual Rp245.000 per ikat (setara 10 hingga 11 kilogram).

"Normalnya harga per ikat itu di atas Rp270.000 bahkan sampai Rp300.000-an. Seminggu ini harganya turun terus, jadi kalau dihitung kiloan jatuhnya sekitar Rp24.500 per kilo," ungkapnya.

Ia menyebutkan,  rata-rata kebutuhan telur di tempatnya bekerja mencapai sekitar 2.000 ikat per bulan untuk memenuhi permintaan pasar Kotim. Terkait rencana pemerintah menyetarakan harga beli di angka Rp26.500 per kilogram, Habib menilai hal tersebut berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, mengingat kondisi pasar saat ini juga tengah sepi pembeli.

"Di harga murah yang sekarang saja daya beli masyarakat agak berkurang, cenderung sepi. Tapi biasanya pasar nanti akan menyesuaikan sendiri, tergantung tren tanggal muda atau tanggal tua. Memang kalau modal murah dari distributor menguntungkan bagi pedagang, tapi di sisi lain kita juga kasihan dengan nasib peternaknya kalau harga terlalu murah," imbuh Habib.

Pantauan Radar Sampit, di penjual telur, harga telur ayam ukuran kecil di banderol dengan harga Rp 55 ribu per sap, ukuran sedang Rp 60 ribu, sementara ukuran besar Rp 65 ribu per ikat.  (yn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Peternak lokal #Ayam petelur #distributor #wabup kotim #harga telur