SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kabupaten Kotawaringin Timur diperkirakan menghadapi musim kemarau ekstrem pada periode Juli hingga September 2026. Curah hujan diprediksi berada di kisaran 0 hingga 20 milimeter per bulan, jauh lebih rendah dibanding kondisi normal.
Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi kering tersebut berpotensi berlangsung hingga sekitar 120 hari. Situasi ini tidak hanya meningkatkan ancaman kekeringan, tetapi juga memperbesar risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ancaman tersebut mulai terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah titik panas atau hotspot terpantau di wilayah Kotim, sementara beberapa kejadian kebakaran lahan juga telah dilaporkan terjadi saat musim kemarau mulai memasuki fase awal.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla yang diperkirakan meningkat selama puncak musim kemarau.
“Kami mengimbau warga untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun. Kondisi cuaca yang kering sangat rentan memicu api dan membuatnya cepat menyebar,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Menurut Multazam, kebakaran tidak selalu dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan. Kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok sembarangan di area kering maupun lahan gambut juga dapat memicu munculnya titik api.
Karena itu, BPBD terus memperkuat upaya mitigasi melalui pemantauan hotspot, patroli lapangan, serta koordinasi dengan BMKG terkait perkembangan cuaca dan potensi karhutla.
Selain mengandalkan upaya pemerintah, masyarakat juga diminta mengambil langkah antisipasi secara mandiri. Warga di wilayah rawan diimbau menyiapkan sumber air cadangan, membuat sekat bakar di sekitar lahan, serta menyediakan peralatan pemadaman sederhana.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan apabila kabut asap mulai muncul akibat kebakaran. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi langkah yang disarankan untuk mengurangi dampak paparan asap.
“Koordinasi antarwarga sangat penting. Kami berharap masyarakat aktif memantau informasi resmi dan saling mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran,” tambah Multazam.
Dengan prakiraan curah hujan yang nyaris nol dan musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang, kewaspadaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah dan masyarakat dituntut bergerak bersama untuk mencegah karhutla sebelum bencana terjadi dalam skala yang lebih besar. (oes)
Editor : Slamet Harmoko