
Setelah menjalani rehabilitasi selama 14 hingga 22 tahun, lima orangutan Kalimantan kembali menghirup udara kebebasan di habitat alaminya. Para primata tersebut dilepasliarkan di Resort Tumbang Hiran, Seksi Pengelolaan Wilayah II Kasongan, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Tengah, Kamis (18/6). Mereka masing-masing bernama Himba, Lykke, Farida, Nett, dan Semeru.
--------------------------
Penantian panjang kelima primata dilindungi itu pun akhirnya tiba. Pelepasliaran itu menjadi kabar baik bagi upaya penyelamatan satwa langka yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature); organisasi lingkungan global tertua dan terbesar di dunia yang berdedikasi untuk pelestarian alam dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kisah paling menyita perhatian datang dari Himba. Orangutan jantan berusia 15 tahun itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan setelah menjadi korban kebakaran hutan saat masih bayi.
Dengan luka bakar yang dialaminya, peluang bertahan hidup Himba saat itu sangat kecil. Namun, setelah menjalani perawatan selama 14 tahun di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, Himba akhirnya dinyatakan siap kembali ke alam liar.
Sementara Lykke, betina berusia 23 tahun yang diselamatkan bersama induknya dari Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur. Lykke menjalani rehabilitasi hampir 22 tahun sebelum memperoleh kesempatan kedua untuk hidup bebas di hutan.
Baca Juga: BKSDA Ambil Alih Penyelidikan Temuan Kerangka Orangutan Di Kolong Jembatan Bumi Raya Baamang
Kemudian Farida, betina berusia 19 tahun asal Tumbang Samba, Kabupaten Katingan, menghabiskan sekitar 15 tahun menjalani rehabilitasi. Sementara Nett, jantan berusia 11 tahun yang awalnya diserahkan warga kepada Protect Our Borneo (POB), menjalani proses rehabilitasi selama enam tahun, sebelum dinyatakan layak dilepasliarkan.
Sedangkan Semeru, betina berusia 17 tahun yang diselamatkan dari Kota Palangkaraya, membutuhkan waktu sekitar 13 tahun untuk mencapai tahap akhir rehabilitasi. Sebelum dilepasliarkan, mereka wajib menyelesaikan berbagai tahapan pembelajaran. Mulai dari sekolah hutan hingga pulau pra-pelepasliaran.
Di sana mereka dilatih mencari makan, membuat sarang, mengenali ancaman, hingga bertahan hidup secara mandiri tanpa bantuan manusia.
Setiap individu yang kembali ke hutan itu, akan membawa harapan baru bagi kelestarian spesiesnya dan bagi keberlanjutan ekosistem hutan hujan tropis Indonesia.
Direktur Konservasi Kawasan Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan Sapto Aji Prabowo mengatakan, pelepasliaran orangutan merupakan bagian penting dari upaya pemulihan ekosistem dan penguatan fungsi kawasan konservasi sebagai habitat satwa liar yang terancam punah.
“Keberhasilan pelepasliaran ini menunjukkan sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, mitra pembangunan, dan masyarakat mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pemulihan populasi orangutan di alam liar,” ujarnya, Jumat (19/6).
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Jamartin Sihite menegaskan, setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa kisah perjuangan panjang.
“Pelepasliaran ini bukan sekadar akhir dari proses rehabilitasi, tetapi awal kehidupan baru mereka di alam. Dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi yang kuat, kita masih memiliki harapan menjaga masa depan orangutan dan hutan Indonesia,” ujarnya.
Ia merinci, pelepasliaran kali ini merupakan yang ke-47 dari pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, sekaligus pelepasliaran pertama Yayasan BOS pada 2026.
Data Yayasan BOS mencatat, sebelum pelepasliaran ini jumlah orangutan yang telah dikembalikan ke alam liar sejak 2012 mencapai 556 individu. Dengan tambahan lima individu, totalnya kini menjadi 561 orangutan. Sebanyak 426 individu dilepasliarkan di Kalimantan Tengah dan 135 individu di Kalimantan Timur.
“Khusus di TNBBBR, sejak 2016 sedikitnya 226 orangutan telah dikembalikan ke habitat alaminya. Kawasan konservasi tersebut kini menjadi salah satu benteng penting bagi kelangsungan populasi orangutan liar di Kalimantan,”papar Jamartin.
Kepala Balai TNBBBR Mochamad Satori juga menyatakan, kehadiran lima orangutan baru di kawasan itu akan memperkuat keseimbangan ekosistem hutan tropis.
“Orangutan memiliki peran penting dalam menjaga regenerasi hutan melalui penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan. Karena itu perlindungan kawasan konservasi harus terus diperkuat,” imbuhnya.
Ditambahkan Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Andi Muhammad Kadhafi, pelepasliaran orangutan merupakan bagian dari upaya mengembalikan keseimbangan alam dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
"Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci agar konservasi orangutan dapat terus berlanjut,"tandasnya.(daq/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama