Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Penjualan Mobil di Sampit Anjlok hingga 60 Persen, Pengusaha Sebut Lebih Berat dari Masa Covid-19

M. Akbar • Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:57 WIB
Jejeran mobil yang terparkir di Showroom Aghna Motor di Jalan Tjilik Riwut Sampit, Kabupaten Kotim.  (Akbar/Radar Sampit)
Jejeran mobil yang terparkir di Showroom Aghna Motor di Jalan Tjilik Riwut Sampit, Kabupaten Kotim. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Pelaku usaha otomotif di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai merasakan dampak perlambatan ekonomi dalam beberapa bulan terakhir. Penjualan mobil mengalami penurunan drastis, bahkan disebut lebih berat dibandingkan saat pandemi Covid-19.

Pemilik Showroom Aghna Motor di Jalan Tjilik Riwut Sampit, Fendy, mengungkapkan penjualan mobil saat ini turun hingga 40-60 persen dibandingkan kondisi normal.

Jika biasanya mampu menjual 15 hingga 17 unit mobil per bulan, hingga pertengahan bulan ini penjualan baru mencapai dua unit.

“Biasanya penjualan bisa 15 sampai 17 unit per bulan. Sekarang sampai pertengahan bulan ini baru terjual dua unit. Memang penurunannya cukup drastis,” katanya, Sabtu (13/6).

Menurut Fendy, melemahnya daya beli masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), fluktuasi harga sawit, hingga meningkatnya biaya distribusi kendaraan.

Ia menjelaskan, kenaikan harga Dexlite dan Pertamax beberapa waktu lalu berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat dan memicu kenaikan biaya operasional di berbagai sektor.

“BBM itu sangat berpengaruh terhadap ekonomi. Ketika BBM naik, hampir semua biaya ikut naik. Dampaknya langsung terasa ke dunia usaha,” tambahnya.

Selain itu, biaya pengiriman kendaraan dari luar daerah juga mengalami kenaikan signifikan. Biaya penyeberangan kapal yang sebelumnya sekitar Rp2,8 juta kini mencapai Rp3,5 juta. Setelah ditambah ongkos transportasi dari Banjarmasin ke Sampit, total biaya distribusi bisa mencapai Rp4,5 juta per unit.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional meningkat sementara penjualan justru menurun. Akibatnya, pendapatan usaha cenderung stagnan dan keuntungan semakin tergerus.

“Pengeluaran naik, tetapi penjualan turun. Otomatis kondisi usaha menjadi berat,” ujarnya.

Meski sejumlah pelaku usaha otomotif telah menaikkan harga jual kendaraan antara Rp5 juta hingga Rp10 juta per unit untuk menyesuaikan kenaikan biaya operasional, Fendy mengaku belum berencana mengikuti langkah tersebut.

“Saat ini yang penting usaha tetap berjalan dan kebutuhan karyawan bisa terpenuhi. Soal menaikkan harga, kami masih mempertimbangkannya,” terangnya.

Untuk mempertahankan penjualan, pihaknya memilih memperkuat strategi promosi dengan memberikan berbagai penawaran menarik kepada konsumen, seperti subsidi uang muka, bonus pembelian, hingga garansi tambahan.

“Kami gencarkan promo. Yang penting ada perputaran usaha. Kami berikan berbagai kemudahan supaya masyarakat tetap tertarik membeli,” ucapnya.

Meski menghadapi kondisi yang sulit, Fendy tetap optimistis usaha yang telah dirintisnya sejak 2008 itu mampu bertahan. Ia meyakini roda perekonomian akan kembali membaik seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan stabilnya harga komoditas perkebunan.

“Kalau dibandingkan masa Covid, menurut saya kondisi sekarang lebih berat. Waktu Covid hanya sekitar tiga bulan, setelah itu mulai membaik. Kalau sekarang belum tahu kapan pulihnya. Tapi kami tetap optimistis, karena usaha ini sudah kami bangun dari nol,” jelas Fendy.

Fendy berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku usaha kecil dan menengah, khususnya melalui kebijakan yang dapat membantu keberlangsungan usaha, seperti akses pembiayaan yang lebih ringan dan dukungan bagi sektor UMKM.

“Harapannya ada solusi atau kebijakan yang bisa membantu pelaku usaha bertahan. Yang penting usaha tetap hidup dan karyawan tetap bisa bekerja,” tutupnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
#Penjualan Mobil #otomotif #sampit #covid-19