Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sebagian Pengguna Pertamax Mulai Turun Kelas 

Rado. • Jumat, 12 Juni 2026 | 07:35 WIB
Antrean pembelian pertalite di Kota Palangka Raya. (dodi/radar sampit)
Antrean pembelian pertalite di Kota Palangka Raya. (dodi/radar sampit)

 

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu peralihan konsumen ke Pertalite di Kota Sampit. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Berdasarkan pantauan di beberapa SPBU, antrean kendaraan roda empat dan roda dua di dispenser Pertalite tampak lebih ramai dibandingkan biasanya, terutama pada jam sibuk. Kendaraan jenis Low Cost Green Car (LCGC) dan sepeda motor mendominasi antrean.

Perubahan pola konsumsi ini terjadi setelah PT Pertamina melakukan penyesuaian harga Pertamax. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.650 per liter atau sekitar 35 persen. Sementara itu, harga Pertalite masih berada di kisaran Rp10.000 per liter.

Salah seorang pengguna kendaraan, Agus Santoso, mengaku mulai beralih ke BBM yang lebih murah untuk menekan pengeluaran harian.

“Kalau selisihnya hanya sedikit mungkin tidak terlalu terasa. Tapi sekarang lumayan besar, jadi mau tidak mau harus menghitung ulang pengeluaran. Untuk aktivitas sehari-hari saya mulai lebih sering isi Pertalite,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Peri. Pemilik kendaraan roda empat itu menilai kenaikan harga Pertamax cukup memengaruhi biaya operasional bulanannya.

“Mobil dipakai setiap hari. Kalau terus pakai Pertamax tentu pengeluarannya bertambah. Sekarang saya mulai menyesuaikan, sesekali isi Pertalite untuk menghemat,” katanya.

Peningkatan jumlah konsumen Pertalite juga diakui petugas SPBU di Kota Sampit, Adi. Menurutnya, sejak harga Pertamax naik, lebih banyak kendaraan yang beralih mengisi Pertalite.

“Sejak harga Pertamax naik memang terlihat lebih banyak kendaraan yang mengisi Pertalite, terutama mobil-mobil LCGC dan kendaraan roda dua. Antreannya juga lebih ramai dibanding biasanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan pola konsumsi tersebut terjadi hampir setiap hari sejak penyesuaian harga diberlakukan. Meski demikian, pasokan Pertalite masih aman dan tidak mengalami kendala distribusi.

“Yang paling terlihat memang kendaraan LCGC dan sepeda motor. Banyak yang sebelumnya mengisi Pertamax sekarang beralih ke Pertalite,” tambahnya.

Peralihan konsumen ke BBM dengan harga lebih rendah merupakan fenomena yang umum terjadi setiap kali terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi. Masyarakat cenderung memilih alternatif yang lebih ekonomis untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali.

Jika tren tersebut berlanjut, antrean kendaraan di dispenser Pertalite diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan harga energi dapat secara langsung memengaruhi pola konsumsi masyarakat. (ang/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
#BBM naik #pertalite #kotawaringin timur #pertamax