Belum Pulih dari Kenaikan Harga Kemasan, Pelaku Usaha Kini Dihantam Dolar

M. Akbar • Dipublikasikan Selasa, 9 Juni 2026 | 20:03 WIB
Ilustrasi kenaikan Dolar (AI)
Ilustrasi kenaikan Dolar (AI)

 SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus Rp18.000 per dolar kembali menambah beban pelaku usaha di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Setelah sebelumnya menghadapi kenaikan harga kemasan akibat gejolak global, kini pelaku usaha harus berhadapan dengan melonjaknya harga bahan baku impor.

Pemilik Coffee Shop di Sampit, Siska, mengaku kenaikan dolar mulai berdampak langsung terhadap biaya produksi usahanya.

Sejumlah bahan baku impor yang digunakan untuk berbagai produk minuman mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

“Kenaikannya cukup terasa. Hampir semua bahan baku impor mengalami penyesuaian harga,” ujarnya, Selasa (9/6).

Menurut Siska, produk berbahan dasar powder mengalami kenaikan sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per kemasan.

 Sementara harga susu naik berkisar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu.

Kenaikan yang lebih signifikan terjadi pada biji kopi. Harga biji kopi robusta meningkat sekitar Rp30 ribu per bungkus, sedangkan arabika naik hampir Rp50 ribu per bungkus.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut semakin membebani pelaku usaha karena sebelumnya harga bahan kemasan seperti plastik dan gelas minuman juga sudah lebih dulu mengalami kenaikan.

“Jadi ini bukan kenaikan yang pertama. Sebelumnya harga kemasan seperti plastik dan cup minuman juga sudah naik cukup signifikan. Sekarang bahan baku impor kembali naik karena pengaruh dolar,” katanya.

Akibat membengkaknya biaya produksi, RD Coffee terpaksa kembali melakukan penyesuaian harga pada sejumlah menu minuman, seperti matcha, red velvet, kopi butterscotch, dan caramel macchiato.

“Kami menyesuaikan harga sekitar Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per gelas untuk beberapa produk,” ucapnya.

Meski demikian, Siska mengatakan sebagian besar pelanggan masih dapat memahami kondisi tersebut.

Setelah diberikan penjelasan mengenai kenaikan biaya produksi, mayoritas konsumen menerima penyesuaian harga yang dilakukan.

“Respons pelanggan beragam. Ada yang terkejut, tetapi setelah dijelaskan mereka bisa memahami,” ungkapnya.

Hingga saat ini, daya beli pelanggan dinilai masih cukup stabil. Menurut Siska, mayoritas pelanggan RD Coffee berasal dari kalangan pekerja dan pegawai kantoran sehingga masih mampu menyesuaikan diri dengan kenaikan harga.

“Alhamdulillah daya beli pelanggan masih cukup baik. Namun kondisi ini tetap harus diwaspadai,” terang Siska.

Ia khawatir apabila nilai tukar dolar terus menguat dan harga bahan baku kembali naik, pelaku usaha akan semakin kesulitan menanggung biaya produksi.

Di sisi lain, ruang untuk terus menaikkan harga jual juga semakin terbatas karena harus mempertimbangkan kemampuan konsumen.

“Kalau bahan baku terus naik, tentu kami akan kesulitan. Tidak mungkin harga jual terus dinaikkan karena daya beli masyarakat juga harus dipertimbangkan,” tutupnya. (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
umkm sampit harga kemasan dolar kotim