Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Peringatan Diabaikan, Puluhan Truk Besar Masih Lintasi Jembatan Patah Kapten Mulyono Setiap Hari

Usay Nor Rahmad • Minggu, 7 Juni 2026 | 11:40 WIB
Spanduk larangan truk bermjuatan dan truk CPO melintas jembatan di Jalan Kapten Mulyono Sampit, kerap diabaikan. Puluhan truk bertonase besar tiap harinya kerap melintas dan mengancam kerusakan jembatan dan keselamatan warga. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)
Spanduk larangan truk bermjuatan dan truk CPO melintas jembatan di Jalan Kapten Mulyono Sampit, kerap diabaikan. Puluhan truk bertonase besar tiap harinya kerap melintas dan mengancam kerusakan jembatan dan keselamatan warga. (Usay Nor Rahmad/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com  – Meski telah dipasang papan peringatan dan berkali-kali diimbau untuk menggunakan jalur alternatif, kendaraan bertonase besar masih leluasa melintasi Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat yang menilai keselamatan pengguna jalan semakin terancam apabila pelanggaran terus dibiarkan.

Pantauan Radar Sampit sejumlah truk angkutan, termasuk truk pengangkut crude palm oil (CPO), masih terlihat melintas di atas jembatan yang selama ini menjadi perhatian akibat kondisinya yang mengalami kerusakan.

Warga Jalan Kapten Mulyono, Endra, mengatakan kendaraan berat masih sangat sering melintasi jembatan tersebut. Bahkan, menurutnya, jumlahnya mencapai puluhan unit setiap hari.

"Masih banyak. Meski kita tidak tahu apakah bermuatan atau tidak. Tapi dari sekian banyak itu puluhan setiap hari. Masa kosong semua. Terutama saat sore hari, banyak truk CPO lewat," ungkap Endra, Minggu (7/6/2026).

Ia mengaku khawatir kondisi jembatan akan semakin rusak apabila kendaraan bertonase besar terus melintas. Selain itu, keberadaan truk-truk tersebut juga membuat pengendara lain merasa tidak aman saat harus melintas bersamaan, terutama pada jam-jam sibuk.

Keluhan serupa disampaikan Nanang, warga lainnya yang ditemui di sekitar lokasi. Menurutnya, keberadaan Jalan Lingkar Selatan yang kini telah diperbaiki seharusnya dimanfaatkan sebagai jalur utama kendaraan angkutan berat.

"Katanya Jalan Lingkar Selatan sudah baik, mestinya lewat sana lah," katanya.

Nanang berharap perusahaan maupun sopir angkutan mematuhi aturan demi keselamatan bersama. Ia menilai penggunaan jalan lingkar jauh lebih tepat dibanding membebani infrastruktur di dalam Kota Sampit.

Pantauan di lapangan juga menunjukkan masih adanya sopir yang mengabaikan papan peringatan di sekitar Jembatan Patah. Kendaraan bertonase besar tetap melintas tanpa menghiraukan larangan yang telah dipasang.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur, Raihansyah, menegaskan pemerintah daerah terus berupaya membatasi kendaraan berat melintasi Jembatan Kapten Mulyono.

Salah satu langkah yang tengah dikaji adalah pemasangan palang pembatas agar truk bertonase besar tidak lagi menggunakan jalur tersebut.

Menurut Raihansyah, hasil patroli menunjukkan para sopir sebenarnya mengetahui aturan tersebut. Saat ada petugas, mereka memilih melintas melalui Jalan Lingkar Selatan maupun Jalan Lingkar Utara.

Namun ketika pengawasan berkurang, masih banyak kendaraan berat yang kembali menggunakan Jalan Kapten Mulyono.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila pelanggaran terus terjadi, pemerintah tidak menutup kemungkinan menutup akses Jembatan Kapten Mulyono bagi seluruh kendaraan bertonase besar.

Langkah itu dipertimbangkan untuk menjaga kondisi jembatan sekaligus melindungi keselamatan masyarakat.

Warga berharap rencana tersebut segera direalisasikan. Mereka menilai pemasangan papan peringatan saja tidak cukup apabila tidak dibarengi pengawasan rutin dan penindakan tegas terhadap sopir maupun perusahaan yang masih membandel.

"Kalau terus dibiarkan, yang jadi korban nanti masyarakat. Kami hanya ingin merasa aman saat melintas," ujar salah seorang warga. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#jembatan patah kapten mulyono #larangan melintas #truk #sampit #kotim