Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Over Kapasitas, Kekurangan Personel dan Anggaran Selimuti Kondisi Lapas Kelas II A Palangka Raya

Dodi Abdul Qadir • Selasa, 2 Juni 2026 | 21:47 WIB
Anggota Komisi XIII DPR RI Bias Layar saat menjenguk ruangan isolasi di Lapas Palangka Raya, pasca wafatnya seorang warga binaan yang mendapatkan hukuman seumur hidup, Senin (1/6).(istimewa/Lapas Palangka Raya)
Anggota Komisi XIII DPR RI Bias Layar saat menjenguk ruangan isolasi di Lapas Palangka Raya, pasca wafatnya seorang warga binaan yang mendapatkan hukuman seumur hidup, Senin (1/6).(istimewa/Lapas Palangka Raya)

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com- Pasca meninggalnya seorang mantan polisi yang menjadi narapidana seumur hidup atas nama Anton Kurniawan Stiyanto pada Sabtu (30/5/2026) lalu, lingkungan Lapas Kelas II A Palangka Raya dikunjungi Anggota Komisi XIII DPR RI, Bias Layar, Senin (1/6).

Dirinya didampingi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah I Putu Murdiana, untuk meninjau kondisi layanan dan warga binaan.

Sejumlah fasilitas diamati, mulai dari klinik pratama, dapur lapas, area pembinaan kemandirian, hingga Lapalka Cafe yang menjadi wadah pengembangan keterampilan bagi warga binaan. Bias Layar juga berdialog ldengan penghuni lapas guna mendengar kondisi dan aspirasi mereka.

Baca Juga: Keluarga Minta Kematian Anton Kurniawan di Lapas Palangka Raya Diusut Transparan

"Kami harus melihat langsung di lapangan apa saja yang masih kurang dan apa yang sudah terpenuhi. Semua ini untuk kehidupan warga binaan karena mereka tetap memiliki hak asasi yang harus kita junjung dan penuhi bersama," ujarnya.

Saat meninjau dapur lapas, Bias memberikan apresiasi terhadap kondisi kebersihan yang dinilai terjaga dengan baik. Menurutnya, pengelolaan dapur yang bersih merupakan bagian penting dalam pemenuhan hak dasar warga binaan, khususnya terkait penyediaan makanan yang layak.

Kunjungannya berlanjut ke area budidaya perikanan yang menjadi salah satu program pembinaan kemandirian. Bias Layar menilai, fasilitas tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena didukung lahan yang cukup luas dan pengelolaan yang baik.

"Tempat budidaya perikanannya bagus, luar biasa. Kolamnya luas dan kebersihannya juga terjaga. Apalagi jika ditambahkan dengan budidaya ikan patin yang memiliki potensi baik. Nanti akan kami upayakan dukungan agar program ini semakin berkembang," paparnya.

 

Saat  berdialog dengan warga binaan, Bias Layar mengingatkan pentingnya menjaga ketertiban selama menjalani masa pembinaan. Ia meminta seluruh penghuni lapas menghindari perkelahian, penyalahgunaan narkoba maupun kepemilikan telepon genggam secara ilegal.

"Berpikirlah seribu kali sebelum bertindak. Saya tidak bisa mengintervensi proses hukum yang kalian jalani karena semua bergantung pada keputusan dan perbuatan masing-masing. Jangan ada kekerasan, karena kalian di sini adalah satu keluarga dan satu rasa," tegasnya.

Bias juga mendorong warga binaan memanfaatkan program pembinaan untuk meningkatkan keterampilan dan memperbaiki diri. Bekal keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu mereka saat kembali ke tengah masyarakat dan mengurangi risiko mengulangi pelanggaran hukum.

Dalam kunjungan tersebut, Bias Layar turut meninjau area sel isolasi yang sebelumnya menjadi lokasi meninggalnya seorang warga binaan. Dari hasil pengecekan, ia menyatakan tidak menemukan kondisi yang membahayakan dan menilai pihak lapas telah menjalankan prosedur sesuai standar operasional.

"Pada saat melakukan pengecekan sel isolasi, saya hanya melihat dari luar dan tidak membuka karena dikhawatirkan ada olah tempat kejadian perkara (TKP) lebih lanjut. Saya pastikan tidak ada tempat yang membahayakan, untuk pihak lapas sendiri sudah memenuhi prosedur dan SOP," terangnya.

Sementara itu, I Putu Murdiana kunjungan anggota DPR-RI ini menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung kondisi riil pemasyarakatan.

“Kami berharap berbagai kebutuhan dan tantangan yang dihadapi satuan kerja dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan ke depan," ujarnya.

Putu menjelaskan, persoalan overkapasitas penghuni dan keterbatasan jumlah personel masih menjadi tantangan utama. Kondisi tersebut berdampak terhadap efektivitas pengamanan maupun pelaksanaan program pembinaan warga binaan.

"Overkapasitas dan kekurangan personel merupakan persoalan yang nyata di lapangan. Di tengah keterbatasan tersebut, jajaran pemasyarakatan tetap berupaya memberikan pelayanan, pembinaan, dan pengamanan secara optimal," bebernya.

Selain itu, keterbatasan anggaran juga berpengaruh terhadap sejumlah rencana pengembangan sarana dan prasarana pemasyarakatan. Kendati demikian, pihaknya menegaskan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan hak-hak warga binaan tetap terpenuhi.

"Kami terus berupaya membenahi fasilitas, meningkatkan kualitas pembinaan, serta memastikan hak-hak warga binaan tetap terpenuhi. Dengan dukungan berbagai pihak, kami optimistis tantangan yang ada dapat diatasi secara bertahap demi terwujudnya sistem pemasyarakatan yang lebih baik," pungkas I Putu Murdiana.(daq/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Anggota DPR-RI #Ruang Isolasi #PALANGKA RAYA #kalimantan tengah #Lapas Kelas II A