PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Misteri menyelimuti kematian Anton Kurniawan Stiyanto, warga binaan Lapas Kelas IIA Palangka Raya yang ditemukan tidak bernyawa di ruang isolasi pengamanan khusus, Sabtu malam (30/5).
Anton merupakan mantan anggota Polri yang sebelumnya sempat menjadi sorotan setelah diduga mencoba melarikan diri dari lapas.
Sejak peristiwa tersebut, ia ditempatkan di ruang isolasi sesuai prosedur pengamanan yang berlaku.
Saat ditemukan petugas, Anton berada dalam posisi tertelungkup di lantai kamar isolasi. Kondisinya tidak mengenakan pakaian dan telah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Baca Juga: Napi Pecatan Polisi Meninggal di Lapas Palangka Raya, Ditjen PAS Kalteng Turunkan Tim Investigasi
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Tengah, I Putu Murdiana, menjelaskan bahwa petugas masih melihat adanya pergerakan dari Anton saat kontrol rutin sekitar pukul 20.32 WIB.
"Saat pengecekan itu yang bersangkutan masih ada pergerakan," ujarnya.
Namun ketika petugas kembali melakukan pengecekan sekitar satu jam kemudian, Anton tidak merespons panggilan dari luar sel.
"Di situlah ada kecurigaan petugas, lalu dilaporkan ke atasannya masing-masing yang berpiket pada saat itu," katanya.
Pemeriksaan lanjutan bersama perwira piket dan komandan jaga kemudian dilakukan hingga akhirnya Anton ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Menurut Murdiana, pada sore hari sebelum ditemukan meninggal, Anton masih menjalani aktivitas seperti mandi dan makan dengan pengawasan petugas. Saat kontrol berikutnya, ia sempat terlihat lemas namun masih bernapas.
Selama menjalani masa isolasi, kondisi kesehatan Anton disebut mengalami penurunan. Ia dilaporkan tidak banyak mengonsumsi makanan dalam beberapa hari terakhir.
Bahkan, kondisi ruang isolasi sempat menjadi perhatian setelah yang bersangkutan diduga buang air besar dan kecil di dalam sel.
Meski ditemukan sejumlah lecet pada bagian tubuh dan bekas gesekan di lengan yang diduga berasal dari penggunaan borgol, hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan.
"Keterangan sementara gagal jantung, tetapi masih didalami melalui uji laboratorium," jelas Murdiana.
Untuk memastikan penyebab kematian, pihak Kanwil Ditjenpas Kalteng memfasilitasi autopsi yang diminta keluarga korban. Selain itu, tim investigasi beranggotakan 14 personel telah diterjunkan ke Lapas Palangka Raya guna mengumpulkan keterangan dan barang bukti.
"Kami ingin semua terang dan mendapatkan titik kejelasan," tegasnya.
Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya, Hisam Wibowo, memastikan seluruh prosedur pengamanan dan pengawasan terhadap Anton telah dilakukan sesuai standar operasional.
"Sudah kami upayakan dan langkah kami sesuai SOP. Kami turut berduka cita," ujarnya.
Sementara itu, anggota Komisi XIII DPR RI, Bias Layar, yang turut memantau penanganan kasus tersebut menyebut hasil pemeriksaan sementara tidak menunjukkan adanya indikasi penganiayaan.
"Tidak ada tanda kekerasan. Hanya terdapat bekas penggunaan borgol yang memang menjadi bagian dari prosedur pengamanan ruang isolasi," katanya.
Di sisi lain, Polresta Palangka Raya juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi setelah menerima laporan dari pihak lapas.
Pamapta III SPKT Polresta Palangka Raya, Ipda M. Abrar, mengatakan jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya untuk menjalani visum dan pemeriksaan lanjutan.
"Peristiwa tersebut saat ini masih dalam penanganan aparat kepolisian guna memastikan penyebab pasti meninggalnya korban melalui proses penyelidikan lebih lanjut," tegas Abrar.
Meski menerima kepergian Anton sebagai takdir, pihak keluarga berharap seluruh fakta di balik kematian mantan anggota Polri tersebut dapat diungkap secara transparan.
Kerabat korban, Sugi, mengatakan jenazah akan dipulangkan ke kampung halamannya di Pulau Jawa untuk dimakamkan sesuai permintaan keluarga.
"Iya, dibawa ke kampung halaman sesuai permintaan orang tua almarhum. Kami juga tetap meminta pemeriksaan lebih lanjut," tandasnya. (daq/sla)
Editor : Slamet Harmoko