Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Memetik Esensi Iduladha, Dari Khutbah Khatib di Masjid Wahyu Al-Hadi Islamic Center Sampit

Agus Jaka Purnama • Rabu, 27 Mei 2026 | 07:59 WIB
Suasana Khutbah Iedadha 1447 Hijriah, di Masjid Wahyu Al-Hadi, Islamic Center, Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (27/5).(agusjp/radarsampit)
Suasana Khutbah Iedadha 1447 Hijriah, di Masjid Wahyu Al-Hadi, Islamic Center, Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (27/5).(agusjp/radarsampit)

 
​SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang memecah keheningan pagi yang cerah 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah/27 Mei 2026.

Seluruh umat Islam sejagat, tak terkecuali di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan sekitarnya, berbondong-bondong memadati lapangan serta masjid untuk bersimpuh di hadapan Allah SWT, melaksanakan salat Iduladha dengan penuh  ketaatan.

Pelaksanaan ibadah berjamaah itu berlangsung khidmat dan turut hadir Bupati Kotim Halikinnor se keluarga, serta sejumlah tokoh ulama dan pejabat di seputaran Pemkab Kotim.

Di waktu yang sama, jutaan jemaah haji di Tanah Suci Mekkah juga tengah melaksanakan salah satu rukun penting, yakni melontar jumrah Aqabah setelah sebelumnya bermalam dan wukuf di Arafah. 

Dalam khutbahnya setelah Salat Iedadha, Khatib menyampaikan momentum ini menjadi simbol penting untuk menundukkan ego serta meredam sifat-sifat setan dan kebinatangan yang kerap bersarang di dalam diri manusia.

Khatib juga menekankan kembali nilai historis hari raya kurban ini. Iduladha merupakan momentum mengenang kembali ujian ketaatan luar biasa yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS)ketika diperintahkan Allah SWT melalui mimpinya untuk menyembelih putra tercinta, Nabi Ismail AS.
​Nabi Ibrahim sempat dihadapkan pada pilihan dilematis antara dorongan perasaan seorang ayah yang ingin menyelamatkan anaknya, atau mentaati perintah Sang Pencipta dengan totalitas ketundukan.

Namun, dengan keteguhan hati, Nabi Ismail justru memantapkan niat ayahnya untuk menjalankan perintah tersebut demi meraih rida Allah SWT. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah As-Saffat ayat 104-107, di mana Allah memuji kebaikan mereka dan menebus Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.

Peristiwa besar inilah yang kemudian menjadi syariat bagi umat Islam untuk menyembelih hewan kurban setiap tanggal 10 Zulhijah serta hari-hari tasyrik pada 11, 12, dan 13 Zulhijah.

Secara sosial, kerelaan berkurban merupakan perwujudan nyata dari sikap altruisme, yaitu sebuah nilai moral yang mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sikap ini mengajarkan manusia untuk rela mengorbankan apa yang dimiliki—bahkan apa yang dicintai—demi kesejahteraan bersama.


​"Hal ini juga dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah Salallahualaihiwassalam dari kaum Ansar yang dengan ikhlas mengutamakan kaum Muhajirin meskipun mereka sendiri dalam kondisi serbakerkekurangan, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an:
​"Dan mereka mengutamakan kepentingan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri masih memutuhkannya,"papar Khatib.

​Menariknya, nilai-nilai spiritual dan sosial dalam kurban ini sejalan dengan hasil riset ilmiah modern. Dalam sebuah studi bertajuk "Spending Money on Others Promotes Happiness" yang dipublikasikan dalam jurnal Science, para peneliti psikologi sosial dari Universitas British Columbia, Kanada, menemukan fakta mengejutkan mengenai hakikat kebahagiaan.

Berdasarkan eksperimen yang meminta para partisipan mengingat kembali momen saat mereka membelanjakan uang, ditemukan bahwa seseorang tidak mengekspresikan kebahagiaan yang mendalam ketika menghabiskan uang untuk kepuasan diri sendiri. Sebaliknya, tingkat kebahagiaan yang jauh lebih tinggi dan bermakna justru muncul saat mereka mengingat momen ketika memberikan bantuan atau membelanjakan uang untuk orang lain.

Hasil riset ini menyimpulkan: semakin besar uang atau harta yang belanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain, terbukti secara signifikan menambah kebahagiaan orang tersebut.

​Temuan ini mematahkan logika terbalik yang kerap diyakini masyarakat modern, bahwa mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi adalah kunci kebahagiaan. Melalui momentum Iduladha, umat diajak untuk mengikis sifat kikir dan cinta harta berlebihan.

 

Khatib juga menekankan, jika semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan ini benar-benar tertanam di dalam jiwa masyarakat dan para pemimpin, maka seberat apa pun problem yang dihadapi bangsa ini niscaya akan mampu teratasi. Sesuai dengan pepatah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kesejahteraan sosial yang berkeadilan pun bukan lagi sekadar impian.(gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#Salat Iedadha #khutbah #Khatib #Islamic Center #Masjid Wahyu Al Hadi