NANGA BULIK, radarsampit.jawapos.com - Kabar kurang sedap kembali menghampiri para petani kelapa sawit di wilayah Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.
Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dilaporkan mengalami penurunan drastis secara serentak di sejumlah perusahaan besar swasta (PBS) yang beroperasi di daerah tersebut.
Berdasarkan data informasi harga per tanggal 22 Mei 2026, penurunan harga terjadi rata-rata sebesar Rp600 per kilogram. Hal ini memicu keluhan mendalam dari para petani swadaya yang sebelumnya sempat menikmati harga di kisaran Rp3.200 per kilogram.
Penurunan tajam ini terlihat dari rilis harga beli pabrik kelapa sawit (PKS) di beberapa PT wilayah Lamandau dan sekitarnya:
Nama Perusahaan Harga Saat Ini (Rp/Kg) Tren Penurunan (Rp)
• PT. KSO 2.390
• PT. PILAR 2.440
• PT. BGA (Pickup) 2.660
• PT. BGA (DT) 2.680
• PT. SAL 2.690
• PT. MMAL 2.720
• PT. SKM 2.760
Turun sekitar Rp 600 per kilogram.
Petani Mengeluh, Biaya Perawatan Tetap Tinggi
Anjloknya harga hingga menyentuh angka Rp2.300 - Rp2.700 per kilogram bahkan di Peron Rp. 1.900 per kilogram, ini membuat para petani kelapa sawit di Lamandau menjerit. Banyak petani yang mengeluhkan situasi ini karena penurunan terjadi secara mendadak dan dalam jumlah yang cukup besar (Rp600/kg).
"Sebelumnya kami masih bisa tersenyum karena harga sempat menyentuh Rp3.200 per kilogram. Kalau turunnya langsung Rp600 begini, jelas sangat terasa dampaknya bagi pendapatan kami apa lagi kami jual ke peron sekitar Rp. 1.900 per kilogram nya, apalagi biaya pupuk dan perawatan kebun saat ini masih tergolong tinggi," ungkap Mustofa, salah seorang petani sawit mandiri di Lamandau.
Kuat dugaan bahwa statement Presiden RI Prabowo Subianto, yang berencana membuat aturan satu pintu untuk ekspor CPO melalui BUMN menjadi penyebab pihak perusahaan kompak menurunkan harga beli TBS secara signifikan dalam waktu bersamaan.
Para petani berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera turun tangan untuk memantau perkembangan harga ini, agar penurunan tidak semakin dalam dan kesejahteraan para petani kelapa sawit lokal tetap terjaga. (bib/sla)
Editor : Slamet Harmoko