Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Dugaan Penganiayaan Santri: Pihak Ponpes Membantah, Sebut Belum Temukan Unsur Kekerasan

Syamsudin Danuri • Sabtu, 9 Mei 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi Klarifikasi
Ilustrasi Klarifikasi

 

PANGKALAN BUN, radarampit.jawapos.com – Setelah ramainya pemberitaan dugaan penganiayaan santri berinisial DI (13), pihak Pondok Pesantren (Ponpes) akhirnya menyampaikan klarifikasi. 

Klarifikasi tersebut disampaikan sebagai bentuk keberimbangan informasi atas kasus yang tengah menjadi perhatian publik tersebut.

Perwakilan ponpes, Ustad Muassid, mengatakan pihaknya pertama kali menerima informasi bahwa santri tersebut dalam kondisi sakit.

Saat itu DI (13) anak Budianto tersebut dirawat di UKS dan disebut sempat oleng, kemudian terjatuh, hingga mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.

“Awalnya kami mendapat kabar anak tersebut sakit, lalu sempat oleng kemudian terjatuh dan kejang-kejang. Karena kondisi matanya bengkak, akhirnya dibawa ke puskesmas,” kata Muassid saat dikonfirmasi.

Menurutnya, pihak puskesmas kemudian merujuk DI ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Setelah dilakukan pemeriksaan medis atau visum, keluarga DI menduga ada unsur kekerasan terhadap anak tersebut dan melapor ke polisi.

Meski demikian, Muassid menegaskan bahwa hasil penelusuran internal yang dilakukan pihak ponpes hingga kini belum menemukan adanya tindakan kekerasan terhadap anak tersebut. Pihak ponpes juga telah meminta keterangan dari sejumlah santri yang berada di lokasi saat kejadian.

“Secara pribadi sudah kami telusuri semua, termasuk kepada anak-anak santri lainnya, namun belum menemukan adanya kekerasan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pihak ponpes bersikap terbuka dan kooperatif selama proses penyelidikan berlangsung. Menurutnya, aparat kepolisian juga telah datang ke ponpes untuk meminta keterangan terkait peristiwa tersebut.

“Kami juga datang saat dimintai keterangan dan terbuka, semua kami jelaskan sesuai yang kami ketahui. Kalau memang ada yang melakukan kekerasan tentu akan kami tindak,” tegasnya.

Muassid mengaku keberatan apabila peristiwa tersebut langsung disebut sebagai penganiayaan sebelum ada hasil resmi dari proses penyelidikan aparat penegak hukum. Namun demikian, pihaknya tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

“Biarkan nanti proses pembuktiannya berjalan. Dari pihak kami sementara ini belum menemukan adanya kekerasan,” pungkasnya.

Sementara itu, pengasuh ponpes, Habib Abdurahman, menyatakan pihaknya terbuka dan siap mengikuti seluruh proses hukum yang berlangsung.

Ia menjelaskan, saat kejadian dirinya sedang berada di luar kota sehingga tidak mengetahui secara langsung kondisi awal korban.

“Awalnya saya tidak diberitahu karena berada di luar kota,” ujarnya.

Habib menjelaskan, berdasarkan prosedur yang berlaku di ponpes, santri yang sakit terlebih dahulu dibawa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS).

Karena kondisi DI yang sempat jatuh karena oleng dan mengalami kejang-kejang, pihak ponpes kemudian membawanya ke puskesmas hingga akhirnya dirujuk ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun.

Setelah santri tersebut menjalani perawatan di rumah sakit, lanjut Habib, pihak keluarga melakukan visum dan melaporkan dugaan penganiayaan ke kepolisian.

Mengetahui hal tersebut, pihak ponpes mengutus perwakilan bersama sejumlah santri untuk menemui keluarga DI dan melihat kondisi santri tersebut. Namun keluarga hanya berkenan bertemu di kedainya.

Namun, menurut Habib, saat pertemuan berlangsung keluarga korban menyampaikan dugaan adanya tindak kekerasan terhadap anaknya.

Dugaan tersebut dibantah oleh sejumlah santri dan perwakilan pondok karena mereka mengaku tidak mengetahui adanya kekerasan fisik terhadap korban. Namun orangtua justru menyebut kekerasan menggunakan tenaga dalam.

“Namun pada prinsipnya, kami memahami kecemasan orangtua atas anaknya. Kami mendoakan agar santri ini cepat sembuh dan bisa diajak komunikasi sehingga bisa dimintai penjelasan apa yang terjadi sebenarnya,” katanya.

Habib menambahkan, pihaknya juga telah melakukan klarifikasi internal kepada para saksi, termasuk para santri, namun hingga kini belum ditemukan indikasi adanya kekerasan terhadap DI.

“Saya menghormati pihak keluarga. Jika memang nanti terbukti, kami berterima kasih berarti telah mengungkap apa yang selama ini kami tidak ketahui. Namun jika tidak terbukti, kami berharap persoalan ini bisa diluruskan,” tuturnya. (sam)

Editor : Slamet Harmoko
#sungai tendang #ponpes #penganiayaan #klarifikasi