Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sektor Industri Incar BBM Nonsubsidi di SPBU. Pertamina Tegaskan Tidak Ada Kelangkaan 

Rado. • Senin, 20 April 2026 | 22:36 WIB
Ilustrasi penggunaan BBM Nonsubsidi jenis Dexlite untuk sektor industri.(AI)
Ilustrasi penggunaan BBM Nonsubsidi jenis Dexlite untuk sektor industri.(AI)

SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Isu kelangkaan BBM, terutama jenis Dexlite di sejumlah SPBU di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim) belakangan ini menjadi sorotan. Antrean kendaraan berat, seperti jenis truk sempat terjadi  di beberapa titik.

Kondisi itu juga sempat memicu kegelisahan kalangan yang bekerja di sektor industri yang menggunakan BBM jenis solar tersebut. Ditengarai, serapan BBM Non Subsidi di SPBU, juga dimanfaatkan para pelansir atau pengepul dengan kendaraan, untuk kembali dijual eceran ke pelaku sektor industri.

Sementara pihak Pertamina, memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok.

Pengawas Operasional Depot Pertamina Patra Niaga Sampit, Afif menegaskan, distribusi BBM, khususnya Dexlite, dalam kondisi aman dan bahkan mampu memenuhi kebutuhan di lapangan.

“Isu kelangkaan itu sebenarnya tidak benar. Yang terjadi adalah adanya selisih harga antara BBM industri dan Dexlite. Harga industri saat ini bisa mencapai Rp30.000 sampai Rp34.000 per liter, sementara Dexlite sebelumnya sekitar Rp14.500. Selisih ini yang membuat konsumen industri beralih ke SPBU, sehingga terjadi antrean,” ujarnya, usai pertemuan dengan Komisi II DPRD Kotim, Senin (20/4).

Menurut Afif, fenomena antrean yang terjadi di SPBU lebih disebabkan oleh pergeseran perilaku konsumen, khususnya dari sektor industri yang mencari alternatif bahan bakar dengan harga lebih murah. Padahal, secara aturan, SPBU diperuntukkan bagi masyarakat umum, bukan untuk memenuhi kebutuhan operasional industri.

“Secara aturan, konsumen industri sebenarnya tidak diperbolehkan membeli BBM di SPBU. Karena itu untuk masyarakat umum, sedangkan industri memiliki jalur distribusi tersendiri,” paparnya.

Ia menjelaskan, perbedaan harga yang cukup jauh antara BBM industri dan Dexlite menjadi faktor utama terjadinya lonjakan permintaan. Dalam kondisi normal, kebutuhan BBM industri disuplai melalui jalur khusus dengan volume yang disesuaikan. Namun ketika harga melonjak, sebagian pelaku industri memilih beralih ke SPBU.

Dampaknya, terjadi penumpukan permintaan di titik-titik pengisian BBM yang selama ini melayani kendaraan umum. Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan persepsi adanya kelangkaan di masyarakat.

Baca Juga: Gubernur Kalteng Gelar 'Sayembara', Ajak Masyarakat Berburu Mafia BBM. Bisa Membuktikan, Diberi Hadiah Rp7,5 Juta

Padahal, dari sisi distribusi, Pertamina tetap menyalurkan BBM sesuai dengan kebutuhan, bahkan dalam beberapa kondisi melebihi permintaan normal.

Afif mengungkapkan, untuk wilayah tiga kabupaten, yakni Kotim, Seruyan, dan Katingan, penyaluran Dexlite berada di kisaran 140 hingga 180 kiloliter per hari. Sementara itu, kebutuhan BBM untuk sektor industri jauh lebih besar, yakni mencapai 500 hingga 600 kiloliter per hari, tergantung aktivitas operasional masing-masing perusahaan.

“Jadi bukan stok kosong, tetapi memang permintaannya yang meningkat signifikan. Kami tetap kirim dan layani sesuai kebutuhan, bahkan kalau lebih pun tetap kami suplai,” katanya.

Meski demikian tegas Afif, kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu distribusi BBM bagi masyarakat umum jika tidak dikendalikan. Pertamina pun mengimbau agar seluruh pihak menggunakan BBM sesuai dengan peruntukannya.

Sementara itu terpisah, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyampaikan alasan harga Pertamax dan Pertamax Green tidak naik, yakni karena pihaknya masih mengevaluasinya."Masih dalam evaluasi,"ujar Roberth di Jakarta, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu (19/4).

Ia menegaskan, Pertamina memastikan setiap keputusan terkait harga BBM nonsubsidi akan dilakukan secara hati-hati, juga mempertimbangkan kondisi ekonomi serta daya beli masyarakat.

Dipaparkan, Penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebenarnya mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Pengisian Bahan Bakar Nelayan.

Di sisi lain, Perseroan itu memutuskan tak menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak dunia sudah menyentuh US$100 per barel.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap alasan kenaikan sejumlah jenis BBM nonsubsidi oleh Pertamina, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Bahlil mengatakan alasan Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi lantaran mengikuti harga pasar pasar. Berdasarkan aturan, pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar.

"Kalau BBM itu kan untuk yang pemerintah atur adalah BBM bersubsidi. Sementara untuk yang nonsubsidi, sesuai Peraturan Menteri ESDM Tahun 2022, itu mengikuti harga pasar," ujarnya saat di lokasi retret Ketua DPRD seluruh Indonesia di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Sabtu (18/4).

Menurut Bahlil, kenaikan harga BBM tersebut juga hanya berdampak pada masyarakat mampu. Sebab, jenis BBM nonsubsidi yang naik umumnya dikonsumsi orang kaya.

Baca Juga: Anggaran dan Belanja Daerah Ikut 'Goyang' Akibat Kenaikan Harga BBM

"(Pertamax) Turbo itu kan buat orang kaya, orang-orang mampu semua, RON 98. Kemudia solar yang CN 51 (Dexlite) itu kan untuk orang mampu," imbuhnya.

Di Kotawaringin Timur per 18 April, harga Pertamax Turbo kini dibanderol Rp19.850 per liter dari sebelumnya sekitar Rp13.350. Dexlite naik menjadi Rp24.150 per liter dari Rp14.500, sementara Pertamina Dex menrmbus Rp24.450 per liter dari sebelumnya sekitar Rp14.800.

Sementara itu, kenaikan harga BBM Nonsubsidi itu juga disusul dengan kenaikan harga LPG Nonsubsidi. Senin (20/4) kemarin, Pertamina resmi menaikkan harga LPG 5,5 kg menjadi Rp 114.000 (Naik Rp 17.000 dari Rp 97.000). Kemudian harga LPG 12 kg menjadi Rp 238.000 (Naik Rp 36.000 dari Rp 202.000). (ang/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Kenaikan harga BBM #industri #pertamina #bbm #spbu