SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Meski musim kemarau belum benar-benar tiba, kekhawatiran mulai muncul terhadap dampak yang ditimbulkan, khususnya terkait ketersediaan air bersih di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengungkapkan bahwa potensi kekeringan justru menjadi perhatian lebih serius dibanding ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini.
“Kalau kemarau masih belum, tapi yang jadi kekhawatiran ulun itu kekeringan. Air bersih akan menjadi pikiran, karena terkait kehidupan dan penghidupan wilayah selatan,” ujarnya.
Baca Juga: Ancaman Kekeringan Mengintai, Petani Kotim Andalkan Cadangan Air
Menurutnya, salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah intrusi air laut yang berpotensi masuk ke aliran Sungai Mentaya. Kondisi ini bisa memperburuk kualitas air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan masyarakat.
“Intrusi air laut akan bergerak masuk ke Sungai Mentaya,” tambahnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Kotim telah menetapkan status siaga bencana karhutla dan kekeringan selama 185 hari, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026. Penetapan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dini menghadapi potensi bencana saat musim kemarau.
Multazam menjelaskan, status siaga tersebut bukan berarti kondisi darurat telah terjadi, melainkan bentuk kesiapsiagaan agar seluruh pihak dapat mempersiapkan langkah mitigasi secara lebih matang.
Baca Juga: Inilah Daerah Paling Rentan Intrusi Air Laut saat Musim Transisi Kamarau di Kotim
“Walaupun saat ini masih masa transisi, kita tetapkan status siaga lebih awal selama 185 hari, agar semua pihak punya waktu untuk bersiap,” katanya.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit memprediksi musim kemarau di Kotim akan mulai terjadi pada awal Juni 2026 dan berlangsung selama sekitar 120 hari hingga September, dengan puncak pada Agustus.
Wilayah selatan seperti Teluk Sampit dan Pulau Hanaut diperkirakan menjadi daerah terakhir yang memasuki musim kemarau, yakni sekitar 21 Juni.
Namun, kawasan ini juga dinilai paling rentan terhadap dampak kekeringan, termasuk ancaman krisis air bersih akibat intrusi air laut.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi fenomena El Nino lemah hingga moderat yang dapat memperpanjang durasi kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk mulai menghemat penggunaan air bersih serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, khususnya di wilayah pesisir dan bantaran Sungai Mentaya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko