Ternyata Ini Penyebab Minyakita Mulai Langka di Kotim

M. Akbar • Dipublikasikan Sabtu, 11 April 2026 | 09:47 WIB
Kepala Perum Bulog Kotim, Muhammad Azwar Fuad, mengungkapkan bahwa keterbatasan kuota distribusi serta fokus penyaluran untuk program bantuan pangan nasional menjadi faktor utama tersendatnya pasokan.  (Akbar/Radar Sampit)
Kepala Perum Bulog Kotim, Muhammad Azwar Fuad, mengungkapkan bahwa keterbatasan kuota distribusi serta fokus penyaluran untuk program bantuan pangan nasional menjadi faktor utama tersendatnya pasokan. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Regional Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkap penyebab kelangkaan minyak goreng “Minyakita” di pasaran.

Keterbatasan kuota distribusi serta fokus penyaluran untuk program bantuan pangan nasional disebut menjadi faktor utama tersendatnya pasokan.

Kepala Perum Bulog Kotim, Muhammad Azwar Fuad, menjelaskan bahwa berdasarkan ketentuan Kementerian Perdagangan, alokasi MinyakKita untuk BUMN pangan hanya sebesar 30 persen dari total produksi pabrikan. Kuota tersebut dibagi antara Bulog dan ID Food, sementara 70 persen sisanya disalurkan melalui pihak swasta.

“Dari total produksi Minyakita, hanya 30 persen yang dialokasikan untuk BUMN pangan, dan itu dibagi lagi antara Bulog dan ID Food. Sisanya disalurkan oleh swasta,” katanya, Sabtu (11/4).

Menurutnya, keterbatasan kuota tersebut berdampak pada ketersediaan stok di Bulog, sehingga pasokan ke pedagang menjadi terbatas.

Selain itu, Fuad mengungkapkan bahwa pada Maret 2026 lalu, produsen lebih memprioritaskan penyaluran MinyakKita untuk program bantuan pangan nasional sebagai bagian dari stimulus ekonomi pemerintah.

“Pada bulan Maret, produsen fokus menyuplai Minyakita untuk bantuan pangan. Setiap keluarga mendapat alokasi dua bulan, yakni total empat liter minyak dan 20 kilogram beras,” jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan distribusi ke pasar komersial, baik melalui Bulog maupun distributor swasta, sempat berkurang sehingga memicu kelangkaan di tingkat pedagang.

Meski demikian, pihaknya optimistis pasokan MinyakKita akan kembali normal pada April 2026 seiring berakhirnya distribusi untuk program bantuan tersebut.

“Kami berharap di April ini suplai dari pabrik sudah kembali normal, baik ke Bulog maupun ke swasta, sehingga ketersediaan di pasar lebih terjaga,” ungkapnya.

Fuad juga menegaskan bahwa Bulog membuka peluang kemitraan bagi pedagang pengecer untuk memperoleh pasokan MinyakKita, dengan syarat menjual sesuai harga eceran tertinggi (HET).

“HET Minyakita sebesar Rp15.700 per liter. Biasanya di lapangan dibulatkan menjadi Rp16.000, selama tidak melebihi itu masih wajar,” tambahnya.

Ia menambahkan, kuota pasokan Minyakita ke Bulog bersifat fluktuatif setiap bulan. Untuk wilayah Kotim, pada Maret 2026 pasokan tercatat sekitar 300.000 liter, sementara pada Februari mencapai sekitar 350.000 liter.

Dengan normalisasi distribusi dari produsen, Bulog berharap kelangkaan Minyak Kita dapat segera teratasi dan harga di pasaran kembali stabil.

Sebelumnya, pedagang sembako di Sampit, Kabupaten Kotim, mengeluhkan sulitnya memperoleh pasokan minyak goreng “MinyakKita” dari Bulog Sub Regional Sampit, Kabupaten Kotim.

Kondisi tersebut membuat pedagang terpaksa membeli melalui agen dengan harga lebih tinggi dari ketentuan pemerintah.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit yang enggan disebutkan namanya mengaku kesulitan mendapatkan stok Minyakita dari Bulog. Akibatnya, ia terpaksa membeli dari agen dengan harga yang lebih mahal.

“Sekarang sulit dapat stok dari Bulog, jadi kami ambil dari agen. Harganya juga lebih tinggi,” ujarnya kemarin.

Ia menjelaskan, harga pembelian Minyakita di Bulog berada di kisaran Rp177 ribu per karton, sedangkan di agen mencapai Rp190 ribu. Kondisi ini membuat pedagang tidak memiliki banyak pilihan dalam memperoleh stok barang.

Karena tingginya harga modal, ia terpaksa menjual minyak Kita di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau modal sudah tinggi, kami jual sekitar Rp17 ribu per liter. Padahal HET itu sekitar Rp15.700. Biasanya kami jual Rp16 ribu," terangnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
MinyaKita bulog kotim Kepala Bulog Kotim Muhammad Azwar Fuad sampit Muhammad Azwar Fuad